Maaf,
apakah aku telah menancapkan panah tepat hatimu?
Hingga
tersayatpun kau tak lekas membaik
Maaf,
apakah senyumku terasa tawar untukmu?
Sampai
–sampai tatapanmu tak setenang luruhnya awan
Mengapa
lengking suaramu tak menggema?
Yang selalu
renyah akan tawa dan gemulai
Kepadaku,
jelas – jelas mengenalmu lebih dari purnama malam
Padaku,
yang senantiasa menjadi teduhmu kala gerimis bertandang
Barangkali
aku telah mematahkan sayap terkuatmu
Barangkali
anganmu padaku tak dapat melebur utuh
Atau kau
sedang membangun dinding terkokoh
Untuk
bentangkan jarak terlebar padaku
Untuk tidak
membawa hati mengangkasa lebih erat lagi
Maaf, jika
belum ada renjana pada kedua bola mata sayuku
Tanpa perlu
kau pertegas dengan gurat wajah acuhmu
Aku
berasumsi
Sepertinya kamu kecewa, Tuan
0 komentar:
Posting Komentar