Sabtu, 21 Maret 2020

Perempuan Yang Gemar Sibuk


Ini masih bercerita tentang kesibukan saat menjadi mahasiswi. Awalnya melanjutkan ke jenjang kuliah, tidak pernah membayangkan menjadi perempuan yang sibuk. Ingin menjadi mahasiswa yang secukupnya saja, pulang kampung dengan teratur, ikut organisasi yang seperlunya saja, dan tak terlalu target IPK tinggi. Iya sesederhana itu. Namun rencana itu buyar begitu saja, saya aktif sekali berkegiatan yang jadwalnya bisa melebihi jadwal kuliah saya. Usai kuliah, tujuan pulang saya bukan kos tetapi sekretariat, dan pulang ke kos sudah menjelang malam hari, begitu seterusnya. Bahkan yang awalnya saya selalu rindu rumah, saya mulai terbiasa dengan yang namanya ‘sibuk’. Sibuk bisa bermakna 2 arti. Sibuk karena memang produktif, atau sibuk karena ingin menyibukkan diri hingga lupa waktu istirahat.

Hal yang membuat saya sibuk adalah saya mengikuti 3 organisasi di kampus. Dapat dibayangkan jika saya aktif di ketiga – tiganya, banyak waktu yang saya curahkan. Dan memang benar saya mencoba aktif menjadi anggota di 3 organisasi itu. Setiap hari setelah pulang kuliah, saya selalu menyempatkan datang ke sekretariat, tak jarang juga organisasi mengadakan kegiatan atau ikut terlibat aktif di kepanitiaan sehingga rasanya bisa bentrok dengan tugas – tugas kuliah. Terkadang jika tiba – tiba menghilang tidak main di sekretariat dengan alasan tugas kuliah, pasti akan dicari. Dari sini saya selalu bertanya dalam hati, mengapa tetap dicari dan diharap kehadirannya untuk datang di kegiatan atau datang rapat di kepanitiaan, sedangkan orang yang dicari malah merasa bodo amat.

Tetapi dalam diri saya, saya yang memilih untuk bergabung ikut dengan tujuannya untuk menambah pengalaman dan memberikan bukti kepada orang – orang yang mengenal saya sebelumnya bahwa saya seorang intorvert tapi suka berkegiatan. Sehingga saya akan berusaha ikut kegiatan jika tak ada halangan dan tak menghilang. Tempat kos saya hanya menjadi ruang berbaring saya saat sore atau malam hari, karena di luar itu saya pasti akan ke sekretariat. Mungkin bisa dibilang, sekretariat adalah rumah ketiga, keempat, atau bahkan kelima bagi saya. Semua itu dimulai saat saya memasuki semester 2 atau 3, saya rasakan kesibukan saya perlahan – lahan. Dan untuk kedua orang tua saya, yang mungkin kenyang dengan kata – kata saya yang selalu gagal untuk pulang dengan alasan sibuk. Mereka hanya berkata, iya sudah jaga kesehatan. Jangan lupa makan. Kedua orang tua saya sangat memaklumi itu dan mendukung.

Tentang pemaknaan “gemar sibuk”, mungkin karena didasari dengan kesenangan saya bisa hadir di tengah – tengah orang dalam suatu kegiatan, bahkan kalau bisa juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan. Dalam hati saya, apakah ada orang introvert seperti saya ini?. Meskipun kesibukan itu seakan memborbardir waktu dan tubuh saya, tetapi saya tak pernah merasakan teramat lelah yang membuat saya jatuh. Saya begitu menikmati proses saya, meski sebenarnya juga ada masalah yang selalu berhasil membuat air mata saya jatuh, tetapi saya kuat jauh dari apa yang saya kira.

0 komentar:

Posting Komentar