Istilah
‘Skripsweet’ pasti terdengar akrab
bagi mahasiswa/i tingkat akhir. Terkadang enggan untuk mengucapkannya sesuai
dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ungkapan‘skripsweet’ mungkin agak terdengar lebih manis saja di telinga. Di
masa perkuliahan, hal yang paling mendebarkan setelah jatuh hati tidak lain
adalah momen skripsweet, saya
memanggilnya skripsweet saja ya, meskipun menyalahi kaidah tapi kesannya akrab
sekali. Padahal sepanjang berkuliah, debaran – debaran tak wajar seperti itu
selalu ada. Semisal saja tugas kuliah yang tidak manusiawi, soal – soal UTS
ataupun UAS yang memilukan, atau malah sudah siap berangkat kuliah dengan
sangat stylish sekali dan ternyata sampai disana hanya ada pesan, maaf hari ini kuliah online saja ya.
Tetapi yang mengherankan, mengapa momen skripsweet
menjadi hal yang sangat ‘sakral’
sekali? Menjadi hal yang sangat ditakutkan kedatangannya dan sangat di hati –
hati. Sedangkan, berapa banyak tugas – tugas kuliah yang selalu mepet dengan
deadline dan masih bersikap yaa santai
saja lah.
Persiapan
menjelang opening skripsweet ini seperti persiapan katakanlah mendaki. Jadi, ada yang jauh – jauh hari sudah mempersiapkan
judul beserta outlinenya dengan sangat matang, Ada yang kelabakan dan baru memikirkan
judul serta outlinenya saat sudah menyusuri skripsweet.
Bahkan ada pula yang masih belum mendapat pencerahan untuk menyentuh
skripsweetnya. Apapun itu, saya juga sangat sangat mengalaminya. Tetapi, semua
pejuang toga pasti akan sepakat jika belum mengalami sambat, mengeluh, jatuh, bahkan
perih sekalipun, petualangan skrisweetnya
belum sah.
Saya
selalu optimis bahwa saya dapat menyelesaikan skripsweet dengan tepat waktu dan tidak ada rasa kemalasan dalam
diri saya. Nyatanya, rasa malas itu benar – benar ada dan saya terkepung.
Berupaya untuk membuka laptop, membuka dokumen skripsweet saya, ternyata gravitasi rebahan saya sangatlah kuat. Selain
itu, pikiran menunda menjadi peringkat pertama dalam dalam diri saya dan
menggugurkan semangat saya menggarap skripsweet. Dan selang dua bulan kemudian,
otak saya mulai berpikir lebih realistis, mau sampai kapan saya seperti ini.
Ada hambatan satu saja, jatuh saya terlalu dalam, bagaimana jika dua bahkan
tiga hambatan?. Dari situ, saya mulai meluruskan niat saya, apa yang menjadi
motivasi terbesar saya untuk segera menyelesaikan skripsweet. Iya, agar cepat
wisuda dan bekerja, itu motivasi besar saya. Akhirnya saya kemudikan kembali
semangat saya yang sempat lepas.
Saya
gencarkan niat saya sampai tak terasa sudah mendekati ujian skripsi, untuk ini
saya menyebutnya sesuai KBBI ya, sebab sangat momentum sekali. Dan benar saja
semua berjalan sangat lancar. Syukur dalam hati saya ucapkan. Pada saat itu,
saya merasakan petualangan saya berbuah hasil. Tak ada yang sia – sia jika
berjuangnya sepenuh hati, jikapun itu teranggap sia – sia, tidak ada yang
seberani dan sekuat itu. Semua orang di sekeliling saya yang berhasil
menyelesaikan skripsinya adalah mereka yang memiliki niat serta motivasi sangat
kuat yang berbeda – beda. Ada yang karena tidak ingin semakin membebani kedua
orang tua, ada yang ingin segera bebas dan menikmati hasil keringat sendiri
dengan bekerja, atau yang terburu ingin menikah dan membangun rumah tangga.
Semua jalan menuju pencapaian itu ada dengan segera merealisasikannya.
Dan
terakhir tentang pertanyaan mengapa momen skripsweet menjadi hal yang sangat ‘sakral’ sekali?, saya rasa karena itu
adalah tahap terakhir di perkuliahan untuk menjadi salah satu wisudawan/i dan
dinyatakan sebagai alumni. Setelah itu, siapa yang tidak bahagia? Pasti
bahagia. Menurut saya momen skripsi itu bisa menjadi skripsweet yang artinya jika kita bersungguh – sungguh maka kita
akan memetik hal yang manis. Tetapi, bisa bermakna skripbitter yang artinya tidak semua berjalan baik untuk
mencapainya dan pasti melalui hal yang pahit. Teruntuk itu semangat jangan
sampai luntur.
0 komentar:
Posting Komentar