Minggu, 22 Maret 2020

Momen Skripsweet


Istilah ‘Skripsweet’ pasti terdengar akrab bagi mahasiswa/i tingkat akhir. Terkadang enggan untuk mengucapkannya sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ungkapan‘skripsweet’ mungkin agak terdengar lebih manis saja di telinga. Di masa perkuliahan, hal yang paling mendebarkan setelah jatuh hati tidak lain adalah momen skripsweet, saya memanggilnya skripsweet saja ya, meskipun menyalahi kaidah tapi kesannya akrab sekali. Padahal sepanjang berkuliah, debaran – debaran tak wajar seperti itu selalu ada. Semisal saja tugas kuliah yang tidak manusiawi, soal – soal UTS ataupun UAS yang memilukan, atau malah sudah siap berangkat kuliah dengan sangat stylish sekali dan ternyata sampai disana hanya ada pesan, maaf hari ini kuliah online saja ya. Tetapi yang mengherankan, mengapa momen skripsweet menjadi hal yang sangat ‘sakral’ sekali? Menjadi hal yang sangat ditakutkan kedatangannya dan sangat di hati – hati. Sedangkan, berapa banyak tugas – tugas kuliah yang selalu mepet dengan deadline dan masih bersikap yaa santai saja lah.

Persiapan menjelang opening skripsweet ini seperti persiapan katakanlah mendaki. Jadi, ada yang jauh – jauh hari sudah mempersiapkan judul beserta outlinenya dengan sangat matang, Ada yang kelabakan dan baru memikirkan judul serta outlinenya saat sudah menyusuri skripsweet. Bahkan ada pula yang masih belum mendapat pencerahan untuk menyentuh skripsweetnya. Apapun itu, saya juga sangat sangat mengalaminya. Tetapi, semua pejuang toga pasti akan sepakat jika belum mengalami sambat, mengeluh, jatuh, bahkan perih sekalipun, petualangan skrisweetnya belum sah.

Saya selalu optimis bahwa saya dapat menyelesaikan skripsweet dengan tepat waktu dan tidak ada rasa kemalasan dalam diri saya. Nyatanya, rasa malas itu benar – benar ada dan saya terkepung. Berupaya untuk membuka laptop, membuka dokumen skripsweet saya, ternyata gravitasi rebahan saya sangatlah kuat. Selain itu, pikiran menunda menjadi peringkat pertama dalam dalam diri saya dan menggugurkan semangat saya menggarap skripsweet. Dan selang dua bulan kemudian, otak saya mulai berpikir lebih realistis, mau sampai kapan saya seperti ini. Ada hambatan satu saja, jatuh saya terlalu dalam, bagaimana jika dua bahkan tiga hambatan?. Dari situ, saya mulai meluruskan niat saya, apa yang menjadi motivasi terbesar saya untuk segera menyelesaikan skripsweet. Iya, agar cepat wisuda dan bekerja, itu motivasi besar saya. Akhirnya saya kemudikan kembali semangat saya yang sempat lepas.

Saya gencarkan niat saya sampai tak terasa sudah mendekati ujian skripsi, untuk ini saya menyebutnya sesuai KBBI ya, sebab sangat momentum sekali. Dan benar saja semua berjalan sangat lancar. Syukur dalam hati saya ucapkan. Pada saat itu, saya merasakan petualangan saya berbuah hasil. Tak ada yang sia – sia jika berjuangnya sepenuh hati, jikapun itu teranggap sia – sia, tidak ada yang seberani dan sekuat itu. Semua orang di sekeliling saya yang berhasil menyelesaikan skripsinya adalah mereka yang memiliki niat serta motivasi sangat kuat yang berbeda – beda. Ada yang karena tidak ingin semakin membebani kedua orang tua, ada yang ingin segera bebas dan menikmati hasil keringat sendiri dengan bekerja, atau yang terburu ingin menikah dan membangun rumah tangga. Semua jalan menuju pencapaian itu ada dengan segera merealisasikannya.

Dan terakhir tentang pertanyaan mengapa momen skripsweet menjadi hal yang sangat ‘sakral’ sekali?, saya rasa karena itu adalah tahap terakhir di perkuliahan untuk menjadi salah satu wisudawan/i dan dinyatakan sebagai alumni. Setelah itu, siapa yang tidak bahagia? Pasti bahagia. Menurut saya momen skripsi itu bisa menjadi skripsweet yang artinya jika kita bersungguh – sungguh maka kita akan memetik hal yang manis. Tetapi, bisa bermakna skripbitter yang artinya tidak semua berjalan baik untuk mencapainya dan pasti melalui hal yang pahit. Teruntuk itu semangat jangan sampai luntur.

0 komentar:

Posting Komentar