Sabtu, 28 Maret 2020

Kemelut Dalam Diri

Bagaimana rasanya berjuang tapi tak banyak yang mendukungmu?. Bagaimana rasanya memiliki mimpi, tapi semua orang di sekitarmu mengatakan itu mustahil?. Jujur, pasti rasanya ingin menutup rapat – rapat impian tanpa seorang pun tahu. Betapapun diungkapkan dengan menggebu, semudah pula dipatahkan. Saya tak pernah berani mengucap lantang mimpi – mimpi saya pada semesta terutama beberapa orang di sekitar saya. Diri saya ditumbuhi rasa minder, tak percaya diri, bahkan seolah menutup diri. Sebenarnya, bukan pribadi itu yang saya inginkan, kalau bisa saya ingin menjadi lebih berani, tak ingin memasukkan dalam hati perkataan orang – orang, dan tidak melankolis. Tetapi, lingkungan membentuk saya menjadi sangat sensitif.

Saya sedari kecil senang mengkhayalkan sesuatu. Dari khayalan itu saya tuliskan di sebuah buku. Iya khayalan itu adalah sebuah cerita yang selalu mengalir dalam angan saya beserta mimpi yang turut saya selipkan. Cerita yang saya tuliskan hanya mampu saya bagikan dengan beberapa teman yang dapat mengerti saya. Sejak SD saya terkenal pendiam, banyak yang mengira saya pemalu dan menjadi sasaran yang mudah dijahili. Saya selalu menceritakan kepada Ibu saya tentang beberapa teman yang sangat jahil kepada saya. Apakah menjadi diam begitu sangat bermasalah?, sedangkan saya tak pernah mengusik siapapun. Bersyukurnya saya, kedua orang tua selalu ada untuk saya, begitu melindungi anak-anaknya.  Saya tak pernah berniat membalas dan saya selalu bersikap abai karena semakin naik kelas, semua berangsur membaik.

Beralih ke SMP, saya pikir awal saya memasuki SMP akan bisa memiliki teman yang baik. Namun di awal kelas 7, banyak teman laki – laki sekelas saya yang menjauhi saya karena saya terlalu pendiam dan rajin, bahkan mengajak bicarapun sangatlah enggan. Tak jarang, perkataan yang tidak mengenakkan juga diucapkan kepada saya. Barangkali mereka pikir saya ini anak yang sok pintar, tidak mau bergaul, tetapi apakah harus seperti itu mereka mengingatkan saya?. Saya tak berniat menanggapi mereka, saya biarkan saja mereka. Saya ke sekolah untuk menimba ilmu dan bukan untuk mencari musuh. Sampai suatu ketika, ada teman perempuan yang berani meminta mereka untuk meminta maaf kepada saya. Ada beberapa yang mau meminta maaf, tetapi ada lagi yang masih saja enggan. Saya tidak peduli itu, meskipun saya sudah menampakkan wajah geram saya, tetapi tetap mereka seperti itu. Tanpa sadar dari sana, perasaan minder, tidak percaya diri, serta menutup diri perlahan bersemayam pada diri saya. Sejak saat itu saya menjadi sangat malas sekali berurusan dengan laki-laki.

Akhirnya, di akhir semester menuju kenaikan kelas 8 ada pengumuman peringkat paralel sekolah. Dan ketekunan saya membuahkan hasil, saya masuk di peringkat paralel ketiga se-sekolah. Saya betul-betul tidak menyangka, karena pengumuman itu disampaikan saat upacara, dan nama-namanya dipanggil untuk maju ke depan. Nama saya dipanggil dan saya maju ke depan. Tepuk tangan juga riuh mengiringi menyambut saya. Oh, jadi ini rasanya berdiri di depan semuanya dengan diberikan piala serta piagam. Dari situ, teman – teman yang biasa mengucapkan hal yang tidak enak kepada saya perlahan berkurang, tetapi tetap masih ada jarak. Dan beruntungnya, saat naik kelas 8 saya tidak sekelas lagi dengan mereka, karena kelas diacak. Dan di kelas 8 sampai kelas 9, saya menemukan teman – teman yang baik dan layaknya kisah SMP pada umumnya. Saya perlahan membuka diri dan membaur, karena saya memiliki teman yang lumayan ceriwis, ada juga yang usil tetapi mereka menyenangkan.

Bertemu dengan teman – teman yang membawa aura yang positif membuat saya terus semangat. Tetapi, jika ada beberapa yang seakan membuat saya jatuh, saya lantas mengingat teman – teman saya yang tidak mengenakkan itu. Dari situ saya belajar menjadi kuat tapi bisa sangat sensitif sekali, terkadang bisa sangat sedih. Meskipun begitu, saya harus membuktikan bahwa mereka menilai saya hanya nampak dari luar, mereka tidak tahu bagaimana diri saya. Saya hanya perlu menunjukkan, bahwa berbeda tak seharusnya dijauhi atau dianggap aneh.

Kemelut dalam diri saya memang benar-benar kalut, sampai tak jarang membuat saya berpikir tak pernah teranggap, tetapi saya punya jalan untuk bangkit dan saya kuat perlahan.

0 komentar:

Posting Komentar