Bagaimana
rasanya berjuang tapi tak banyak yang mendukungmu?. Bagaimana rasanya memiliki
mimpi, tapi semua orang di sekitarmu mengatakan itu mustahil?. Jujur, pasti
rasanya ingin menutup rapat – rapat impian tanpa seorang pun tahu. Betapapun
diungkapkan dengan menggebu, semudah pula dipatahkan. Saya tak pernah berani
mengucap lantang mimpi – mimpi saya pada semesta terutama beberapa orang di
sekitar saya. Diri saya ditumbuhi rasa minder, tak percaya diri, bahkan seolah
menutup diri. Sebenarnya, bukan pribadi itu yang saya inginkan, kalau bisa saya
ingin menjadi lebih berani, tak ingin memasukkan dalam hati perkataan orang –
orang, dan tidak melankolis. Tetapi, lingkungan membentuk saya menjadi sangat
sensitif.
Saya
sedari kecil senang mengkhayalkan sesuatu. Dari khayalan itu saya tuliskan di
sebuah buku. Iya khayalan itu adalah sebuah cerita yang selalu mengalir dalam
angan saya beserta mimpi yang turut saya selipkan. Cerita yang saya tuliskan
hanya mampu saya bagikan dengan beberapa teman yang dapat mengerti saya. Sejak
SD saya terkenal pendiam, banyak yang mengira saya pemalu dan menjadi sasaran
yang mudah dijahili. Saya selalu menceritakan kepada Ibu saya tentang beberapa
teman yang sangat jahil kepada saya. Apakah menjadi diam begitu sangat
bermasalah?, sedangkan saya tak pernah mengusik siapapun. Bersyukurnya saya,
kedua orang tua selalu ada untuk saya, begitu melindungi anak-anaknya. Saya tak pernah berniat membalas dan saya
selalu bersikap abai karena semakin naik kelas, semua berangsur membaik.
Beralih
ke SMP, saya pikir awal saya memasuki SMP akan bisa memiliki teman yang baik. Namun
di awal kelas 7, banyak teman laki – laki sekelas saya yang menjauhi saya
karena saya terlalu pendiam dan rajin, bahkan mengajak bicarapun sangatlah
enggan. Tak jarang, perkataan yang tidak mengenakkan juga diucapkan kepada
saya. Barangkali mereka pikir saya ini anak yang sok pintar, tidak mau bergaul,
tetapi apakah harus seperti itu mereka mengingatkan saya?. Saya tak berniat
menanggapi mereka, saya biarkan saja mereka. Saya ke sekolah untuk menimba ilmu
dan bukan untuk mencari musuh. Sampai suatu ketika, ada teman perempuan yang
berani meminta mereka untuk meminta maaf kepada saya. Ada beberapa yang mau
meminta maaf, tetapi ada lagi yang masih saja enggan. Saya tidak peduli itu,
meskipun saya sudah menampakkan wajah geram saya, tetapi tetap mereka seperti
itu. Tanpa sadar dari sana, perasaan minder, tidak percaya diri, serta menutup
diri perlahan bersemayam pada diri saya. Sejak saat itu saya menjadi sangat
malas sekali berurusan dengan laki-laki.
Akhirnya,
di akhir semester menuju kenaikan kelas 8 ada pengumuman peringkat paralel
sekolah. Dan ketekunan saya membuahkan hasil, saya masuk di peringkat paralel
ketiga se-sekolah. Saya betul-betul tidak menyangka, karena pengumuman itu
disampaikan saat upacara, dan nama-namanya dipanggil untuk maju ke depan. Nama
saya dipanggil dan saya maju ke depan. Tepuk tangan juga riuh mengiringi
menyambut saya. Oh, jadi ini rasanya berdiri di depan semuanya dengan diberikan
piala serta piagam. Dari situ, teman – teman yang biasa mengucapkan hal yang
tidak enak kepada saya perlahan berkurang, tetapi tetap masih ada jarak. Dan
beruntungnya, saat naik kelas 8 saya tidak sekelas lagi dengan mereka, karena
kelas diacak. Dan di kelas 8 sampai kelas 9, saya menemukan teman – teman yang
baik dan layaknya kisah SMP pada umumnya. Saya perlahan membuka diri dan
membaur, karena saya memiliki teman yang lumayan ceriwis, ada juga yang usil
tetapi mereka menyenangkan.
Bertemu
dengan teman – teman yang membawa aura yang positif membuat saya terus semangat.
Tetapi, jika ada beberapa yang seakan membuat saya jatuh, saya lantas mengingat
teman – teman saya yang tidak mengenakkan itu. Dari situ saya belajar menjadi
kuat tapi bisa sangat sensitif sekali, terkadang bisa sangat sedih. Meskipun
begitu, saya harus membuktikan bahwa mereka menilai saya hanya nampak dari
luar, mereka tidak tahu bagaimana diri saya. Saya hanya perlu menunjukkan,
bahwa berbeda tak seharusnya dijauhi atau dianggap aneh.
Kemelut dalam diri saya memang benar-benar
kalut, sampai tak jarang membuat saya berpikir tak pernah teranggap, tetapi
saya punya jalan untuk bangkit dan saya kuat perlahan.
0 komentar:
Posting Komentar