Saya
baru mengenali sebutan anak rantau ketika menjejaki dunia kuliah. Iya sebutan
anak rantau ditujukan pada semua orang yang sedang berkuliah atau bekerja jauh dari
rumah atau orang tua. Jujur, ini merupakan kedua kali saya menjadi anak kos.
Pertama saat saya melaksankan kegiatan PSG di Kota Jember, dan kedua saat
berkuliah. Perbedaannya adalah, jika PSG hanya bekisar 3 bulan saya kos,
sedangkan saat kuliah ya hampir 4 tahun. Bila ditanya, pasti sering pulkam (red:
pulang kampung) ya? . Saya akan menjawab “Iya”, tapi itu hanya pada saat saya
masih berstatus mahasiswa baru. Lepas dari label itu, pulkam saya bisa dihitung
jari.
Jika
dapat dikategorikan, barangkali saya masuk kategori mahasiswa kura – kura (red:
kuliah rapat, kuliah rapat). Tapi sebelum mendapat label seperti itu, saya
harus mengalami rindu yang teramat rindu dengan kampun halaman. Hari – hari saya
menjadi mahasiswa baru selalu diliputi dengan kekhawatiran apakah saya bisa
hidup di kota orang. Saya setiap malamnya selalu menelpon kedua orang tua,
menceritakan keluh kesahku, menceritakan hari – hari berkuliahku, bahkan juga
rasa canggung dengan teman – teman yang sangatlah baru bagi saya.
Iya
masa – masa menjadi mahasiswa baru adalah masa dimana saya menjadi mahasiswa
kupu – kupu (red: kuliah pulang kuliah pulang). Setiap minggu pulang, atau dua
minggu sekali pulang. Angkutan pulang saya adalah dengan kereta api.
Transportasi yang menurut saya paling nyaman untuk mengantarkan saya. Hal yang
membuat rindu saat itu adalah ketika ayah menjemput saya di stasiun, menunggu
kedatangan putrinya dengan sangat sabar. Sesampainya saya di stasiun, tak lupa
menanyakan, bagaimana tadi ke stasiunnya untuk pulang. Bahkan saat sampai di
rumah, tak lupa sambutan ibu selalu hangat menenangkan. Cerita – cerita dalam
hati yang sudah menimbun beberapa hari kemarin akhirnya tumpah begitu saja.
Segala remah tawa, pucuk kesedihan juga mewarnai rumah hangat. Masakan ibu,
perhatian ibu, nasihat ayah, celoteh adik begitu manis dalam hati.
Terkadang
waktu terlalu irit sekali memberikan ruangnya untuk saya menemu rindu dengan
kedua orang tua dan adik saya. Tiba – tiba saja, hari sudah jatuh saja di hari
kembalinya saya ke tempat rantauan. Haru yang paling dalam, ketika ibu selalu
mengatakan durasi saya yang selalu cepat untuk meninggalkan rumah. Ayah juga
tak kalah ributnya, terkadang ingin menahan putrinya untuk kembali meski sehari
saja. Kembalinya saya ke tempat rantaupun juga dengan kereta, dengan ayah yang
selalu setia mendampingi mengantar sampai stasiun, sampai dengan melambaikan
tangan dengan kereta sambil berjalan menjauh. Pesannya, “Hati – hati di jalan. Kalau tidak sibuk, jangan lupa pulang.”
0 komentar:
Posting Komentar