Kamis, 19 Maret 2020

Rindu Rumah Bagi Anak Rantau


Saya baru mengenali sebutan anak rantau ketika menjejaki dunia kuliah. Iya sebutan anak rantau ditujukan pada semua orang yang sedang berkuliah atau bekerja jauh dari rumah atau orang tua. Jujur, ini merupakan kedua kali saya menjadi anak kos. Pertama saat saya melaksankan kegiatan PSG di Kota Jember, dan kedua saat berkuliah. Perbedaannya adalah, jika PSG hanya bekisar 3 bulan saya kos, sedangkan saat kuliah ya hampir 4 tahun. Bila ditanya, pasti sering pulkam (red: pulang kampung) ya? . Saya akan menjawab “Iya”, tapi itu hanya pada saat saya masih berstatus mahasiswa baru. Lepas dari label itu, pulkam saya bisa dihitung jari.

Jika dapat dikategorikan, barangkali saya masuk kategori mahasiswa kura – kura (red: kuliah rapat, kuliah rapat). Tapi sebelum mendapat label seperti itu, saya harus mengalami rindu yang teramat rindu dengan kampun halaman. Hari – hari saya menjadi mahasiswa baru selalu diliputi dengan kekhawatiran apakah saya bisa hidup di kota orang. Saya setiap malamnya selalu menelpon kedua orang tua, menceritakan keluh kesahku, menceritakan hari – hari berkuliahku, bahkan juga rasa canggung dengan teman – teman yang sangatlah baru bagi saya.

Iya masa – masa menjadi mahasiswa baru adalah masa dimana saya menjadi mahasiswa kupu – kupu (red: kuliah pulang kuliah pulang). Setiap minggu pulang, atau dua minggu sekali pulang. Angkutan pulang saya adalah dengan kereta api. Transportasi yang menurut saya paling nyaman untuk mengantarkan saya. Hal yang membuat rindu saat itu adalah ketika ayah menjemput saya di stasiun, menunggu kedatangan putrinya dengan sangat sabar. Sesampainya saya di stasiun, tak lupa menanyakan, bagaimana tadi ke stasiunnya untuk pulang. Bahkan saat sampai di rumah, tak lupa sambutan ibu selalu hangat menenangkan. Cerita – cerita dalam hati yang sudah menimbun beberapa hari kemarin akhirnya tumpah begitu saja. Segala remah tawa, pucuk kesedihan juga mewarnai rumah hangat. Masakan ibu, perhatian ibu, nasihat ayah, celoteh adik begitu manis dalam hati.

Terkadang waktu terlalu irit sekali memberikan ruangnya untuk saya menemu rindu dengan kedua orang tua dan adik saya. Tiba – tiba saja, hari sudah jatuh saja di hari kembalinya saya ke tempat rantauan. Haru yang paling dalam, ketika ibu selalu mengatakan durasi saya yang selalu cepat untuk meninggalkan rumah. Ayah juga tak kalah ributnya, terkadang ingin menahan putrinya untuk kembali meski sehari saja. Kembalinya saya ke tempat rantaupun juga dengan kereta, dengan ayah yang selalu setia mendampingi mengantar sampai stasiun, sampai dengan melambaikan tangan dengan kereta sambil berjalan menjauh. Pesannya, “Hati – hati di jalan. Kalau tidak sibuk, jangan lupa pulang.”

0 komentar:

Posting Komentar