Senin, 23 Maret 2020

Panggung Jurnalis Kampus


Jurnalis, saya menemukan kata itu saat bergabung di lembaga pers mahasiswa fakultas. Hal yang baru bagi saya. Meskipun saya lantang sekali menyerukan bahwa saya senang menulis, tetapi telinga saya serasa menciut mendengar istilah media, pers, bahkan jurnalistik. Lagi – lagi sepertinya saya akan tersesat pada ranah yang bukan bidang saya. Media menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, poster, dan spanduk. Sedangkan jurnalis menurut KBBI adalah orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan menulis berita di media massa cetak atau elektronik atau bisa disebut dengan wartawan.

Awalnya bergabung di lembaga pers mahasiswa fakultas karena minat saya tentang menulis dan juga tertarik dengan kalimat – kalimat persuasif yang dilontarkan kakak tingkat pada acara aktualisasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Mereka melakukan sosialisasi UKM yang untuk mengajak para mahasiswa baru untuk bergabung. Akhirnya saya tertarik untuk ikut UKM Pers Mahasiswa. Setelah acara itu, saya mulai datang ke sekretariat sebagai awal pengenalan. Dibekali macam – macam wawasan dari teknik penulisan berita, diskusi seputar fenomena yang sedang terjadi, liputan, sampai deadline tugas menulis juga. Lama-kelamaan ada rasa jemu juga dalam diri ditambah jika sudah berbarengan dengan tugas kuliah dan tugas ospek fakultas, rasanya pikiran untuk tidak lanjut itu ada. Iya, ini belum dapat dikatakan menjadi anggota lembaga pers mahasiswa fakultas. Baru bisa menjadi anggota, jika sudah mengikuti serangkaian rekruitmen.

Tetapi akhirnya saya mengikuti sampai benar – benar menjadi anggota tetap bahkan menjadi pengurus sebagai Redaktur Pelaksana 1. Sebelum mencapai itu, saya harus melalui yang namanya evaluasi tulisan berkali-kali, melakukan liputan dan diberi deadline menulis sampai pada kegiatan lapang pelatihan jurnalistik tingkat dasar. Dari sini tidak bekerja individu, melainkan bersama kelompok. Iya, tugas kami tidak lepas dari media. Dan media disini yang digunakan sebagai aktualisasi di lapang adalah buletin. Bagaimana melakukan rapat redaksi, menentukan rubrik-rubrik tulisannya, kontributor setiap rubrik juga ditentukan, sampai hal terumitnya adalah perlunya benang merah dari seluruh tulisan dalam buletin itu.

Dari semua itu, saya tidak berhenti sampai sana saja. Setelah ditetapkan menjadi anggota tetap, nyatanya saya masih harus banyak belajar. Tentang media, pers, jurnalistik, mendadak saya menjadi menyukainya. Pekerjaannya memang tidak terlihat karena bergelut dengan tulisan, mencari berita, wawanca, layout, desain, foto. Sangat berbeda memang dengan mengadakan kegiatan besar yang memang terlihat wujud kerja kerasnya. Tetapi, orang – orang yang bergerak di media lah yang meliput semua kegiatan itu. Satu hal yang saya kagumi, betapa mereka mencari berita yang benar – benar mengangkat keresahan mahasiswa, seputar kampus, atau bahkan tentang fenomena di masyarakat. Saya memperoleh banyak wawasan dengan pernah menjadi bagian dari tim redaksi lembaga pers mahasiswa. Hal yang saya syukuri, saya tahu kerja tim dalam menerbitksn buletin dengan rapat redaksi yang bisa setiap waktu dilakukan pembahasan. Sampai pada menyikapi beberapa teman yang tengah hilang kabar, sedangkan dirinya ditugasi tulisan. Selain itu dapat membuka pikiran saya tentang fenomena – fenomena yang lagi hangat diperbincangkan, tak jarang dilakukan diskusi untuk menambah bacaan atau untuk mengisi gelas yang kosong.

Dari situ, saya sempat ingin nantinya menjadi bagian dari suatu media pemberitaan. Agak keluar dari jurusan kuliah saya, tapi rasanya seru saja dan merasa ada tantangan juga tambahan pengalaman dan pengetahuan. Apapun itu, segala hal yang sudah saya dapat, harus terus ditekuni, bukan?. Barangkali semua itu akan diperlukan nantinya.

0 komentar:

Posting Komentar