Jurnalis,
saya menemukan kata itu saat bergabung di lembaga pers mahasiswa fakultas. Hal
yang baru bagi saya. Meskipun saya lantang sekali menyerukan bahwa saya senang
menulis, tetapi telinga saya serasa menciut mendengar istilah media, pers,
bahkan jurnalistik. Lagi – lagi sepertinya saya akan tersesat pada ranah yang
bukan bidang saya. Media menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah
alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, poster, dan
spanduk. Sedangkan jurnalis menurut KBBI adalah orang yang pekerjaannya
mengumpulkan dan menulis berita di media massa cetak atau elektronik atau bisa
disebut dengan wartawan.
Awalnya
bergabung di lembaga pers mahasiswa fakultas karena minat saya tentang menulis
dan juga tertarik dengan kalimat – kalimat persuasif yang dilontarkan kakak
tingkat pada acara aktualisasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Mereka melakukan
sosialisasi UKM yang untuk mengajak para mahasiswa baru untuk bergabung. Akhirnya
saya tertarik untuk ikut UKM Pers Mahasiswa. Setelah acara itu, saya mulai
datang ke sekretariat sebagai awal pengenalan. Dibekali macam – macam wawasan
dari teknik penulisan berita, diskusi seputar fenomena yang sedang terjadi,
liputan, sampai deadline tugas menulis juga. Lama-kelamaan ada rasa jemu juga
dalam diri ditambah jika sudah berbarengan dengan tugas kuliah dan tugas ospek
fakultas, rasanya pikiran untuk tidak lanjut itu ada. Iya, ini belum dapat
dikatakan menjadi anggota lembaga pers mahasiswa fakultas. Baru bisa menjadi
anggota, jika sudah mengikuti serangkaian rekruitmen.
Tetapi
akhirnya saya mengikuti sampai benar – benar menjadi anggota tetap bahkan
menjadi pengurus sebagai Redaktur Pelaksana 1. Sebelum mencapai itu, saya harus
melalui yang namanya evaluasi tulisan berkali-kali, melakukan liputan dan
diberi deadline menulis sampai pada kegiatan lapang pelatihan jurnalistik
tingkat dasar. Dari sini tidak bekerja individu, melainkan bersama kelompok. Iya,
tugas kami tidak lepas dari media. Dan media disini yang digunakan sebagai
aktualisasi di lapang adalah buletin. Bagaimana melakukan rapat redaksi,
menentukan rubrik-rubrik tulisannya, kontributor setiap rubrik juga ditentukan,
sampai hal terumitnya adalah perlunya benang merah dari seluruh tulisan dalam
buletin itu.
Dari
semua itu, saya tidak berhenti sampai sana saja. Setelah ditetapkan menjadi
anggota tetap, nyatanya saya masih harus banyak belajar. Tentang media, pers,
jurnalistik, mendadak saya menjadi menyukainya. Pekerjaannya memang tidak
terlihat karena bergelut dengan tulisan, mencari berita, wawanca, layout,
desain, foto. Sangat berbeda memang dengan mengadakan kegiatan besar yang
memang terlihat wujud kerja kerasnya. Tetapi, orang – orang yang bergerak di
media lah yang meliput semua kegiatan itu. Satu hal yang saya kagumi, betapa
mereka mencari berita yang benar – benar mengangkat keresahan mahasiswa,
seputar kampus, atau bahkan tentang fenomena di masyarakat. Saya memperoleh
banyak wawasan dengan pernah menjadi bagian dari tim redaksi lembaga pers
mahasiswa. Hal yang saya syukuri, saya tahu kerja tim dalam menerbitksn buletin
dengan rapat redaksi yang bisa setiap waktu dilakukan pembahasan. Sampai pada
menyikapi beberapa teman yang tengah hilang kabar, sedangkan dirinya ditugasi
tulisan. Selain itu dapat membuka pikiran saya tentang fenomena – fenomena yang
lagi hangat diperbincangkan, tak jarang dilakukan diskusi untuk menambah bacaan
atau untuk mengisi gelas yang kosong.
Dari
situ, saya sempat ingin nantinya menjadi bagian dari suatu media pemberitaan.
Agak keluar dari jurusan kuliah saya, tapi rasanya seru saja dan merasa ada
tantangan juga tambahan pengalaman dan pengetahuan. Apapun itu, segala hal yang
sudah saya dapat, harus terus ditekuni, bukan?. Barangkali semua itu akan
diperlukan nantinya.
0 komentar:
Posting Komentar