Rabu, 25 Maret 2020

Catatan Fasilitator


“Interarma!!!”, sebuah jargon yang menurut banyak orang, sangat khas sekali dengan saya sembari tangan kanan mengepal ke depan. Iya, sebuah jargon tersebut selalu saya ucapkan dengan lantang sebelum saya memulai materi. Diselingi sautan kata “Caritas”, juga tidak kalah lantangnya dari suara saya. Pemilik suara yang menjawab “Caritas” ialah mereka relawan muda yang tengah belajar tentang apa itu kepalangmerahan. Setahun sudah saya mengenal mereka, setahun pula saya membagikan ilmu dan pengalaman saya tentang Palang Merah Remaja (PMR).

Disini saya bukan seorang guru yang harus menyiapkan kurikulum, metode pembelajaran dan lain sebagainya, tapi disini saya sebagai seorang fasilitator yang membekali mereka materi kepalangmerahan serta membentuk karakter mereka untuk menjadi relawan di masa depan. Rasa minat saya terhadap kepalangmerahan, menuntun saya untuk belajar bersama mereka. Awal yang menjemukan bagi saya melihat yang antusias dan bergabung di PMR hanya beberapa anak saja. Hal tersebut karena disana adalah Sekolah Menengah  Kejuruan (SMK) yang dinaungi oleh sebuah yayasan, sedangkan menumbuhkan semangat siswa-siswinya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler agak sulit dan minim. Tapi itu tidak mengurungkan niat saya untuk berbagi ilmu dengan mereka, saya mengajari mereka dari nol, saya mengajari mereka bukan seperti murid melainkan seperti adik saya sendiri.

Bukan tantangan namanya jika mengajar selalu dengan proses yang mulus. Saya mendapati mereka masih bergurau, ada yang tidak datang latihan tanpa izin, ada pula yang tiba – tiba ingin berhenti. Semua kegiatan ekstrakurikuler dilakukan seusai jam belajar sekolah, sehingga tidak menutup kemungkinan mereka untuk pulang tanpa pamit. Beberapa bulan semenjak saya memulai, latihan semakin saya gencarkan yang dari awal sekali dalam seminggu menjadi dua kali dalam seminggu. Hal itu saya lakukan untuk mengikutkan mereka di ajang lomba PMR Wira Tingkat Nasional.

Mereka saya pacu untuk terus semangat dan memajukan PMR lebih baik. Dari yang tidak paham lambat laun menjadi paham, walau hanya sedikit tapi mereka memiliki semangat untuk belajar. Saya rasa tidak cukup jika hanya sebatas latihan saja, maka dari itu sebelum mereka benar – benar terjun di perlombaan, saya adakan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT). Kegiatan DIKLAT itu dilakukan untuk membentuk karakter mereka untuk disiplin dan lebih serius. Kegiatan DIKLAT dilaksanakan selama 2 hari 1 malam di sekolah. Saat DIKLAT mereka digembeleng untuk memahami materi tanpa bergurau dan dilatih tentang kedisiplinan. Pasca DIKLAT, ada perubahan pada mereka yaitu keseriusan dan lebih semangat dalam latihan.

Tak terasa hari pelaksanaan lomba telah tiba. Lomba ini terbagi menjadi dua bagian yaitu lomba travelling dan non travelling. Lomba travelling ini meliputi presentasi tujuh materi PMR yang dilakukan secara individu dan non travelling ini merupakan praktik Pertolongan Pertama yang dilakukan secara berkelompok. Saya lebih banyak memberikan materi tentang Pertolongan Pertama, karena materi itu lumayan banyak saya kuasai. Bagian tersulit adalah ketika memberikan materi yang berhubungan dengan presentasi, karena dari mereka masih sangatlah malu untuk berbicara di depan orang banyak. Tetapi saat DIKLAT, saya mendorong mereka untuk lebih berani dan menunjukkan kemampuan mereka. Mereka sangat bersungguh – sungguh dari awal pelepasan di sekolah hingga sampai di tempat perlombaan.  Sesampai di tempat perlombaan, mereka masih tetap latihan sambil menunggu jam mulai perlombaan. Saya hanya mengatakan yang penting usaha semaksimal mungkin. Seusai lomba, mereka bercerita pengalaman saat lomba dan telah melakukan semaksimalnya.

Pengumuman lomba yang ditunggu – tunggu akhirnya tiba. Mereka sangat antusias sekali, saya hanya bisa berkata “tidak apa jika tidak menang, yang terpenting adalah usaha dan pengalamannya”. Hasil yang mereka peroleh ialah mendapat piala terbaik ke 2 dari total nilai lomba yang diikuti. Refleks mereka menangis dan berkata “maaf ya Kak, cuma bisa dapat satu piala”. Saya hanya tersenyum dan menyemangati mereka dengan kalimat yang sama. Ada kebanggaan tersendiri bagi saya melihat perkembangan mereka, karena yang dari awal banyak bergurau berubah menjadi lebih serius. Tetapi dari itu, tumbuhlah semangat dalam diri mereka untuk percaya diri mengikuti lomba. Mereka yang mulanya takut dan ragu, ketika sudah usai lomba malah menjadi kegirangan, tak lupa pertanyaan yang selalu ditanyakan kepada saya, “Kak kapan ada lomba lagi?”. Mungkin memang mereka tidak bisa dibandingkan dengan sekolah lain yang dengan mudah mendapat juara dan terlihat kompak, tapi semua itu ada proses panjang yang perlu ditempuh. Saya hanya berusaha membuat mereka percaya diri dan berusaha untuk menjadi lebih baik tanpa ingin memaksakan menjadi nomor 1. Ilmu yang saya berikan kepada mereka tidaklah sia – sia, mereka kerahkan semaksimalnya. Meskipun kadang dalam hati rasanya lelah, tapi melihat mereka sudah sampai sejauh ini, rasa lelah saya terbayar dengan perkembangan mereka.

Perkembangan mereka terlihat lagi di kegiatan DIKLAT yang kedua. Iya, DIKLAT ini diadakan untuk anggota baru, karena mereka sudah menjadi senior saat ini. Mereka membuat saya terharu, dengan cara mereka mengarahkan juniornya untuk belajar menghargai dan tentang disiplin. Saya membimbing mereka dengan menyusun konsep dan merekalah yang menjadi eksekutornya. Bukan waktunya lagi saya yang menjadi eksekutor, tetapi mereka yang memegang keberlangsungan PMR dan mengajarkan kepada juniornya tentang semangat untuk terus berproses di PMR. Mereka membuat saya sadar, walau jumlah mereka sedikit asal semangat dan kompak, mereka menjadi sangat luar biasa. Puncaknya adalah mereka saling bersalaman dan merangkul satu sama lain, sembari tangis juga mewarnai suasana haru itu. “Terima Kasih, Kak”, tiga kata sederhana itu mereka ucapkan kepada saya yang telah mengajarkan mereka selama ini, bukan tentang pelajaran akademik melainkan tentang kepalangmerahan dan kemanusiaan.

Pesan yang ingin saya sampaikan kepada mereka adalah, “Kalian unik, mandirilah dengan kokoh relawan Palang Merah Remaja masa kini. Semangat kalian harus membumbung tinggi dan tetap kompaklah!”. Tak lupa pula saya ingin menerjemahkan kata dari “Interarma Caritas” yang artinya ialah “Kita semua bersaudara”.

0 komentar:

Posting Komentar