“Interarma!!!”,
sebuah jargon yang menurut banyak orang, sangat khas sekali dengan saya sembari
tangan kanan mengepal ke depan. Iya, sebuah jargon tersebut selalu saya ucapkan
dengan lantang sebelum saya memulai materi. Diselingi sautan kata “Caritas”, juga tidak kalah lantangnya
dari suara saya. Pemilik suara yang menjawab “Caritas” ialah mereka relawan muda yang tengah belajar tentang apa
itu kepalangmerahan. Setahun sudah saya mengenal mereka, setahun pula saya
membagikan ilmu dan pengalaman saya tentang Palang Merah Remaja (PMR).
Disini
saya bukan seorang guru yang harus menyiapkan kurikulum, metode pembelajaran
dan lain sebagainya, tapi disini saya sebagai seorang fasilitator yang
membekali mereka materi kepalangmerahan serta membentuk karakter mereka untuk
menjadi relawan di masa depan. Rasa minat saya terhadap kepalangmerahan,
menuntun saya untuk belajar bersama mereka. Awal yang menjemukan bagi saya
melihat yang antusias dan bergabung di PMR hanya beberapa anak saja. Hal
tersebut karena disana adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dinaungi oleh sebuah
yayasan, sedangkan menumbuhkan semangat siswa-siswinya untuk mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler agak sulit dan minim. Tapi itu tidak mengurungkan niat saya
untuk berbagi ilmu dengan mereka, saya mengajari mereka dari nol, saya
mengajari mereka bukan seperti murid melainkan seperti adik saya sendiri.
Bukan
tantangan namanya jika mengajar selalu dengan proses yang mulus. Saya mendapati
mereka masih bergurau, ada yang tidak datang latihan tanpa izin, ada pula yang
tiba – tiba ingin berhenti. Semua kegiatan ekstrakurikuler dilakukan seusai jam
belajar sekolah, sehingga tidak menutup kemungkinan mereka untuk pulang tanpa
pamit. Beberapa bulan semenjak saya memulai, latihan semakin saya gencarkan yang
dari awal sekali dalam seminggu menjadi dua kali dalam seminggu. Hal itu saya
lakukan untuk mengikutkan mereka di ajang lomba PMR Wira Tingkat Nasional.
Mereka
saya pacu untuk terus semangat dan memajukan PMR lebih baik. Dari yang tidak
paham lambat laun menjadi paham, walau hanya sedikit tapi mereka memiliki
semangat untuk belajar. Saya rasa tidak cukup jika hanya sebatas latihan saja,
maka dari itu sebelum mereka benar – benar terjun di perlombaan, saya adakan
kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT). Kegiatan DIKLAT itu dilakukan untuk
membentuk karakter mereka untuk disiplin dan lebih serius. Kegiatan DIKLAT
dilaksanakan selama 2 hari 1 malam di sekolah. Saat DIKLAT mereka digembeleng
untuk memahami materi tanpa bergurau dan dilatih tentang kedisiplinan. Pasca
DIKLAT, ada perubahan pada mereka yaitu keseriusan dan lebih semangat dalam
latihan.
Tak
terasa hari pelaksanaan lomba telah tiba. Lomba ini terbagi menjadi dua bagian
yaitu lomba travelling dan non travelling. Lomba travelling ini meliputi presentasi tujuh
materi PMR yang dilakukan secara individu dan non travelling ini merupakan praktik Pertolongan Pertama yang
dilakukan secara berkelompok. Saya lebih banyak memberikan materi tentang Pertolongan
Pertama, karena materi itu lumayan banyak saya kuasai. Bagian tersulit adalah
ketika memberikan materi yang berhubungan dengan presentasi, karena dari mereka
masih sangatlah malu untuk berbicara di depan orang banyak. Tetapi saat DIKLAT,
saya mendorong mereka untuk lebih berani dan menunjukkan kemampuan mereka. Mereka
sangat bersungguh – sungguh dari awal pelepasan di sekolah hingga sampai di
tempat perlombaan. Sesampai di tempat
perlombaan, mereka masih tetap latihan sambil menunggu jam mulai perlombaan.
Saya hanya mengatakan yang penting usaha semaksimal mungkin. Seusai lomba,
mereka bercerita pengalaman saat lomba dan telah melakukan semaksimalnya.
Pengumuman
lomba yang ditunggu – tunggu akhirnya tiba. Mereka sangat antusias sekali, saya
hanya bisa berkata “tidak apa jika tidak
menang, yang terpenting adalah usaha dan pengalamannya”. Hasil yang mereka
peroleh ialah mendapat piala terbaik ke 2 dari total nilai lomba yang diikuti.
Refleks mereka menangis dan berkata “maaf
ya Kak, cuma bisa dapat satu piala”. Saya hanya tersenyum dan menyemangati
mereka dengan kalimat yang sama. Ada kebanggaan tersendiri bagi saya melihat
perkembangan mereka, karena yang dari awal banyak bergurau berubah menjadi
lebih serius. Tetapi dari itu, tumbuhlah semangat dalam diri mereka untuk percaya
diri mengikuti lomba. Mereka yang mulanya takut dan ragu, ketika sudah usai
lomba malah menjadi kegirangan, tak lupa pertanyaan yang selalu ditanyakan
kepada saya, “Kak kapan ada lomba lagi?”.
Mungkin memang mereka tidak bisa dibandingkan dengan sekolah lain yang dengan
mudah mendapat juara dan terlihat kompak, tapi semua itu ada proses panjang
yang perlu ditempuh. Saya hanya berusaha membuat mereka percaya diri dan
berusaha untuk menjadi lebih baik tanpa ingin memaksakan menjadi nomor 1. Ilmu
yang saya berikan kepada mereka tidaklah sia – sia, mereka kerahkan
semaksimalnya. Meskipun kadang dalam hati rasanya lelah, tapi melihat mereka
sudah sampai sejauh ini, rasa lelah saya terbayar dengan perkembangan mereka.
Perkembangan
mereka terlihat lagi di kegiatan DIKLAT yang kedua. Iya, DIKLAT ini diadakan
untuk anggota baru, karena mereka sudah menjadi senior saat ini. Mereka membuat
saya terharu, dengan cara mereka mengarahkan juniornya untuk belajar menghargai
dan tentang disiplin. Saya membimbing mereka dengan menyusun konsep dan
merekalah yang menjadi eksekutornya. Bukan waktunya lagi saya yang menjadi
eksekutor, tetapi mereka yang memegang keberlangsungan PMR dan mengajarkan
kepada juniornya tentang semangat untuk terus berproses di PMR. Mereka membuat
saya sadar, walau jumlah mereka sedikit asal semangat dan kompak, mereka
menjadi sangat luar biasa. Puncaknya adalah mereka saling bersalaman dan
merangkul satu sama lain, sembari tangis juga mewarnai suasana haru itu. “Terima Kasih, Kak”, tiga kata sederhana
itu mereka ucapkan kepada saya yang telah mengajarkan mereka selama ini, bukan
tentang pelajaran akademik melainkan tentang kepalangmerahan dan kemanusiaan.
Pesan
yang ingin saya sampaikan kepada mereka adalah, “Kalian unik, mandirilah dengan kokoh relawan Palang Merah Remaja masa
kini. Semangat kalian harus membumbung tinggi dan tetap kompaklah!”. Tak
lupa pula saya ingin menerjemahkan kata dari “Interarma Caritas” yang artinya ialah “Kita semua bersaudara”.
0 komentar:
Posting Komentar