Malam
ini seharusnya aku bisa tidur lebih cepat, namun hasrat kantuk itu tak kunjung
datang dan tak segera membawaku ke alam mimpi. Aku hanya termenung sembari
menunggu terpejamnya mata ini. Ada alasan mengapa aku tak segera membaringkan
diri, selain rasa kantuk yang sebenarnya adalah proses sadarku untuk
mengantarkan sinyal ke otak untuk jangan tidur terlebih dulu. Aku tidak ingin
malam cepat berganti pagi, aku ingin menungguinya hingga menjadi saksi
pergantian pukul 23.59 menjadi pukul 00.00 . Bagiku malam perlu dijaga, aku tak
ingin melewatkannya begitu saja, bahkan ingin menghabiskan malam ini dengan
sebuah perenungan. Ada banyak hal terlintas dalam memoriku, dari paling rumit
hingga sesuatu yang mudah. Mereka diam – diam mengobrak abrik isi kepalaku.
Malam
ini kutuntaskan saja segala dilema yang menestapakan raga, kuusaikan saja lekuk
penat yang menyangkarkan hati. Sebab aku ingin benar – benar bebas. Tetapi
malam terlanjur tiba, sebelum sempat kutuntaskan segala dilema itu. Sore tak
memberiku aba – aba, jikalau malam akan segera tiba dan akhirnya kurelakan saja
lelapku pada malam.
Tak
terlelap sampai menunggu subuh datang, sampai matahari muncul dari peraduannya,
dan aku masih saja terjaga. Terlelap membutuhkan keikhlasan untuk melepas
letih, membiarkan mimpi membawamu menjelajah.
0 komentar:
Posting Komentar