Kamis, 12 Juli 2018

Bahagiaku Bertambah Sehari


Terkadang aku ingin menjadi alasan seseorang untuk bahagia, tapi sepertinya itu tak berhasil. Ada seorang yang lebih mahir membahagiakan seseorang itu. Terkadang aku ingin menjadi seseorang penting yang selalu diingat meski aku tak ada di dekatnya, tapi sepertinya aku tak ada dalam daftar singgahan pikiran dia.
Hari – hariku dipenuhi cerita bersamanya, bukan berdua seperti seorang kekasih, melainkan bersama bercampur dengan cerita orang lain. Setiap waktu, dia menyelinap hadir dengan getar hangatnya yang mampu lunturkan kegelisahanku. Bagaimana bisa dia lebih hangat dari sebuah senja, lebih bijak dari sebuah pantai yang mengantarkan perahu kecil ke pepulauan dan sekali lagi, terkadang aku ingin seseorang itu mencariku, ada atau tidak adanya diriku.
Kalian tahu, kadang seseorang menjadi lebih bangkit lagi ketika ia benar – benar dicari. Tak akan lelah menunggumu, bahkan dengan rela menjemputmu kembali. Tetapi aku bukan seperti itu. Aku tak pernah benar – benar diingat, tak pernah benar – benar diinginkan. Aku memenuhi diriku dengan kehadirannya. Jika aku berada di tengah – tengah bersamanya, rasanya ingin waktu kuhentikan sejenak. Sebab dari dia aku mengenal bahagia. Bahagiaku bertambah sehari, jika terus dan selalu bersamanya, maka bahagiaku sempurna.
Namun bagaimana aku bisa meletakkan tawaku padanya, sedang seorang yang lain telah melengkapinya rasa nyaman. Bagaimana kami bisa saling menggenapkan, jika aku bukan jalan terbahagianya. Banyak orang – orang berlomba – lomba mendekatimu, akupun juga tapi sosokku tak sempat tertangkap oleh indera matamu. Sosokku yang kuanggap selalu ada, tapi nyatanya terasa jauh dalam jangkauanmu.
Bila hanya kebetulan denganmu di waktu tertentu adalah sebuah bahagiaku yang bertambah sehari, maka biarlah seperti itu. Dan jika kemudian hari aku tak melihatmu, maka kucari sendiri bahagiaku tuk dapat bertahan sehari bahkan sempurna dan selamanya.

“Kamu selalu tertulis dalam catatan harianku yang tak kasat mata. Dalam keadaan hening hingga gemerlap pun, kau selalu memenuhi halaman harianku”.

1 komentar: