Terkadang
aku ingin menjadi alasan seseorang untuk bahagia, tapi sepertinya itu tak
berhasil. Ada seorang yang lebih mahir membahagiakan seseorang itu. Terkadang
aku ingin menjadi seseorang penting yang selalu diingat meski aku tak ada di
dekatnya, tapi sepertinya aku tak ada dalam daftar singgahan pikiran dia.
Hari
– hariku dipenuhi cerita bersamanya, bukan berdua seperti seorang kekasih,
melainkan bersama bercampur dengan cerita orang lain. Setiap waktu, dia
menyelinap hadir dengan getar hangatnya yang mampu lunturkan kegelisahanku.
Bagaimana bisa dia lebih hangat dari sebuah senja, lebih bijak dari sebuah pantai
yang mengantarkan perahu kecil ke pepulauan dan sekali lagi, terkadang aku
ingin seseorang itu mencariku, ada atau tidak adanya diriku.
Kalian
tahu, kadang seseorang menjadi lebih bangkit lagi ketika ia benar – benar dicari.
Tak akan lelah menunggumu, bahkan dengan rela menjemputmu kembali. Tetapi aku
bukan seperti itu. Aku tak pernah benar – benar diingat, tak pernah benar –
benar diinginkan. Aku memenuhi diriku dengan kehadirannya. Jika aku berada di
tengah – tengah bersamanya, rasanya ingin waktu kuhentikan sejenak. Sebab dari
dia aku mengenal bahagia. Bahagiaku bertambah sehari, jika terus dan selalu
bersamanya, maka bahagiaku sempurna.
Namun
bagaimana aku bisa meletakkan tawaku padanya, sedang seorang yang lain telah
melengkapinya rasa nyaman. Bagaimana kami bisa saling menggenapkan, jika aku
bukan jalan terbahagianya. Banyak orang – orang berlomba – lomba mendekatimu,
akupun juga tapi sosokku tak sempat tertangkap oleh indera matamu. Sosokku yang
kuanggap selalu ada, tapi nyatanya terasa jauh dalam jangkauanmu.
Bila
hanya kebetulan denganmu di waktu tertentu adalah sebuah bahagiaku yang
bertambah sehari, maka biarlah seperti itu. Dan jika kemudian hari aku tak
melihatmu, maka kucari sendiri bahagiaku tuk dapat bertahan sehari bahkan
sempurna dan selamanya.
“Kamu selalu tertulis dalam
catatan harianku yang tak kasat mata. Dalam keadaan hening hingga gemerlap pun,
kau selalu memenuhi halaman harianku”.
Wah... siapa dia yaa? 😉
BalasHapus