Jumat, 27 Januari 2017

Tulisan

“Kamu tahu hal ternyaman ketika tak ada yang memahamimu adalah sendiri dalam kesunyian, dan saat sunyi itu tiba, cobalah tuk menulis”

Tak ada yang menjamin seseorang akan menuruti kata-kataku, hilangkan penatmu dengan menulis. Mana mungkin? Menulis itu buang-buang waktu, menulis itu melelahkan. Tak ada yang benar maupun salah, karena semua berhak berpendapat. Menulis buang-buang waktu, iya memang. Kita dipaksa menerbangkan lamun kita untuk kemudian menuangkannya dalam bentuk aksara. Tapi selanjutnya lihat esensinya, kita akan jauh lebih terobati ketimbang kita tak menuliskan apa-apa, karena segala penat, rasa jengah harus dikeluarkan, bukan? Jika tak kau keluarkan, maka seterusnya hatimu gelisah, Jika tak berani mengungkap, maka beranilah menulis…

Menulis itu melelahkan, sangat benar. Aku benci melarutkan diriku dalam ambang-ambang kesedihan, karena ketika aku harus menulis, maka aka harus mengeruk segala kejadian haru biru yang kulalui. Lelah karena kita harus berpikir, Lelah karena kita harus bermain perasaan, perasaan mengolah kata. Tapi, memang itulah bagian indahnya. Dan aku bukanlah tipe telling story yang baik, hanya orang tertentu saja kuberani bercerita. Selebihnya aku memilih menulis. Esensinya adalah aku tak pernah hilang arah untuk bercerita, menulis juga bisa menjadi media bercerita.  Jika tak berani mengungkap, maka beranilah menulis.

Menulis butuh keberanian, berani untuk berbeda, berani untuk berada di kesunyian, berani untuk menulis peliknya kamu tanpa kamu tutup-tutupi. Dan ketika kamu mulai hanyut akan menulis, maka keberanian itu sudah melekat dalam dirimu.

Berani untuk berbeda, kamu mencoba beda ketika menjadikan menulis adalah bagian dari dirimu. Ketika sunyi datang, tangan – tangan mungilmu mulai memijat tombol-tombol untuk sekedar mengetik sebuah tulisan. Karena memang menulis adalah pekerjaan yang sunyi. Tak ada manusia yang benar-benar bisa menang dari rasa sunyi.


Berani menulis peliknya kamu, tak ada yang tahu dirimu dengan sangat jeli, kecuali dirimu sendiri yang tahu persis. Karena kita jualah yang menetralisir segala apa yang menimpa kita. Tentang rumitnya kamu, tentang jengahnya kamu maka marilah menulis untuk sekedar alat perenungan diri.

Ini tulisanku tentang menulis untuk rumah oranye ku yaitu sekretariat LPME-Ecpose, terima kasih telah memilih tulisan ini sebagai tulisan terbaik. 

0 komentar:

Posting Komentar