“Kamu
tahu hal ternyaman ketika tak ada yang memahamimu adalah sendiri dalam
kesunyian, dan saat sunyi itu tiba, cobalah tuk menulis”
Tak
ada yang menjamin seseorang akan menuruti kata-kataku, hilangkan penatmu dengan
menulis. Mana mungkin? Menulis itu buang-buang waktu, menulis itu melelahkan.
Tak ada yang benar maupun salah, karena semua berhak berpendapat. Menulis
buang-buang waktu, iya memang. Kita dipaksa menerbangkan lamun kita untuk
kemudian menuangkannya dalam bentuk aksara. Tapi selanjutnya lihat esensinya,
kita akan jauh lebih terobati ketimbang kita tak menuliskan apa-apa, karena
segala penat, rasa jengah harus dikeluarkan, bukan? Jika tak kau keluarkan,
maka seterusnya hatimu gelisah, Jika tak berani mengungkap, maka beranilah
menulis…
Menulis
itu melelahkan, sangat benar. Aku benci melarutkan diriku dalam ambang-ambang
kesedihan, karena ketika aku harus menulis, maka aka harus mengeruk segala
kejadian haru biru yang kulalui. Lelah karena kita harus berpikir, Lelah karena
kita harus bermain perasaan, perasaan mengolah kata. Tapi, memang itulah bagian
indahnya. Dan aku bukanlah tipe telling story yang baik, hanya orang tertentu
saja kuberani bercerita. Selebihnya aku memilih menulis. Esensinya adalah aku
tak pernah hilang arah untuk bercerita, menulis juga bisa menjadi media
bercerita. Jika tak berani mengungkap,
maka beranilah menulis.
Menulis
butuh keberanian, berani untuk berbeda, berani untuk berada di kesunyian,
berani untuk menulis peliknya kamu tanpa kamu tutup-tutupi. Dan ketika kamu
mulai hanyut akan menulis, maka keberanian itu sudah melekat dalam dirimu.
Berani
untuk berbeda, kamu mencoba beda ketika menjadikan menulis adalah bagian dari
dirimu. Ketika sunyi datang, tangan – tangan mungilmu mulai memijat
tombol-tombol untuk sekedar mengetik sebuah tulisan. Karena memang menulis
adalah pekerjaan yang sunyi. Tak ada manusia yang benar-benar bisa menang dari
rasa sunyi.
Berani
menulis peliknya kamu, tak ada yang tahu dirimu dengan sangat jeli, kecuali
dirimu sendiri yang tahu persis. Karena kita jualah yang menetralisir segala
apa yang menimpa kita. Tentang rumitnya kamu, tentang jengahnya kamu maka
marilah menulis untuk sekedar alat perenungan diri.
Ini tulisanku tentang menulis untuk rumah oranye ku yaitu sekretariat LPME-Ecpose, terima kasih telah memilih tulisan ini sebagai tulisan terbaik.
0 komentar:
Posting Komentar