Aku melihat mata lelaki itu, mata yang meneduhkan. Tuhan,
jangan sampai aku jatuh hati. Sebab untuk jatuh tak sekedar jatuh saja,
melainkan dia harus rela meretak. Dan retak selalu mengguratkan bekas.
Aku melihatmu berdiri di bawah alam yang biru, ah aku lupa
kamu memang suka bergulat dengan alam, dan sepertinya bahagiamu adalah ketika
kamu mampu menjejaki bebukitan hutan itu.
Aku tak menahu tentang istimewanya mendaki ataupun
menjelajah, sebab aku merasa terkepung ketika yang kulihat hanyalah hijaunya
pepohonan serta tingginya bebukitan yang menjulang itu.
Tapi kamu lain, ketika dirimu memaknai setiap perjalanan
dakian itu, halang rintang tak pernah jadi masalah sampai akhirnya kamu benar –
bemar mencapai titik puncak itu. Sekali lagi aku tak pernah tahu teristimewa
apa hal itu? Tetapi melihat punggungmu yang berjalan dengan tegap melewati semak-semak
rumput, mungkin aku bisa dapatkan jawabannya…
Semua orang tahu jika jatuh itu sakit, jika jatuh itu
perih. Namun orang yang tahan tak kan menyerah dan menikmati segala rasa
jatuhnya sampai pada titik hentinya dia menemukan kebangkitan yang
sesungguhnya.
Seperti halnya aku yang mencoba melangkahkan kaki mungilku
pada rumput berduri, tanah becek, bahkan semut yang ganas untuk mengikuti
setiap langkah gagahmu. Namun kamu telah terlatih dengan alam dan aku
tertinggal jauh darimu.
Tak jarang pula aku harus tergelincir dulu, aku harus
terkilir dulu untuk dapat sampai di depan, mungkin ini adalah jawabannya.
Jawaban bahwa untuk suatu pencapaian diperlukan pengorbanan untuk mau jatuh,
kerelaan untuk bisa menerima cemoohan, kemudian bangkit dengan sisa semangat
yang ada.
Iya mungkin perjalanan dakian itu pula yang mengajarkanmu
hal itu hingga mencipta dirimu yang berani, karena kamu telah terbiasa dengan
itu. Dan aku memang perlu banyak belajar tentang bagaimana bangkit,
mengenyahkan segala keminderan – keminderan yang membuntuti. Mungkin kamu bisa
menjadi navigasiku untuk menentukan arah. Tuhan, jangan sampai aku jatuh hati.
--Miss Puitis--
0 komentar:
Posting Komentar