“air mata boleh saja turun
layaknya hujan, tapi jangan biarkan harimu kau buat mendung, dan jika seperti itu maka seterusnya hujan itu turun”
Sebenarnya
aku benci tangisan. Aku membenci air mata. Tetapi, mengapa banyak orang
mengatakan dengan menangis, kamu akan merasa lega. Iya, awalnya aku pikir
seperti itu, tapi ketika aku mulai memahami hidup, aku tak boleh menangis. Atau
mungkin aku berusaha memaksa diriku untuk tak berair mata.
Bukankah
itu menyakitkan ? Benar. Tapi sekarang
aku mulai terbiasa menyimpan. Menyimpan dalam – dalam air mata itu.
Kutenggelamkan dalam dasar hati begitu saja. Aku hanya harus tersenyum dan
tersenyum, agar air mata itu tak berenang maju.
Bukankah
kita seharusnya tak memaksakan ekspresi kita? Jika kita ingin menangis, maka
menangislah. Bukan, kita seharusnya bisa mencegah air mata itu turun.
Bukankah
lebih menyenangkan jika kita berekspresi bahagia ? Maka semesta pun ikut
membahagiakan kita. Jangan rapuhkan dirimu dengan dunia yang seakan mencabikmu,
jangan biarkan hatimu meronta piluh karena belenggu ratapan.
Dunia
selalu begitu, ratapan memang selalu menyedihkan dan nanar. Tapi tak
mengharuskan dirimu untuk berempati pada mereka, ajaklah batinmu untuk ceria,
ajarkanlah nalurimu untuk menerima. Menerima segala hal yang menimpamu,
bukankah menerima itu sulit? Itulah bentuk bahwa kamu tegar. Sulit memang, tapi
jika seseorang bisa melakukannya, bukankah dia hebat ? .
.
.
.
.
“karena
air mata harus menemui titik hentinya, karena air mata harus menemui titik bekunya
agar kamu mampu mengukir senyum dan menatap indahnya hari”
0 komentar:
Posting Komentar