Jumat, 23 Desember 2016

Tears...


“air mata boleh saja turun layaknya hujan, tapi jangan biarkan harimu kau buat mendung, dan jika seperti itu maka seterusnya hujan itu turun”

Sebenarnya aku benci tangisan. Aku membenci air mata. Tetapi, mengapa banyak orang mengatakan dengan menangis, kamu akan merasa lega. Iya, awalnya aku pikir seperti itu, tapi ketika aku mulai memahami hidup, aku tak boleh menangis. Atau mungkin aku berusaha memaksa diriku untuk tak berair mata.
Bukankah itu menyakitkan ?  Benar. Tapi sekarang aku mulai terbiasa menyimpan. Menyimpan dalam – dalam air mata itu. Kutenggelamkan dalam dasar hati begitu saja. Aku hanya harus tersenyum dan tersenyum, agar air mata itu tak berenang maju.
Bukankah kita seharusnya tak memaksakan ekspresi kita? Jika kita ingin menangis, maka menangislah. Bukan, kita seharusnya bisa mencegah air mata itu turun.
Bukankah lebih menyenangkan jika kita berekspresi bahagia ? Maka semesta pun ikut membahagiakan kita. Jangan rapuhkan dirimu dengan dunia yang seakan mencabikmu, jangan biarkan hatimu meronta piluh karena belenggu ratapan.
Dunia selalu begitu, ratapan memang selalu menyedihkan dan nanar. Tapi tak mengharuskan dirimu untuk berempati pada mereka, ajaklah batinmu untuk ceria, ajarkanlah nalurimu untuk menerima. Menerima segala hal yang menimpamu, bukankah menerima itu sulit? Itulah bentuk bahwa kamu tegar. Sulit memang, tapi jika seseorang bisa melakukannya, bukankah dia hebat ? .
.
.
.
.
“karena air mata harus menemui titik hentinya, karena air mata harus menemui titik bekunya agar kamu mampu mengukir senyum dan menatap indahnya hari”

0 komentar:

Posting Komentar