Jumat, 11 November 2016

Catatan Anak Rumah


Rumah selalu membawa sesenggukan rindu untukku, tentang nasihat ayah, perhatian ibu yang melimpah, bahkan tentang celoteh adik yang tak kalah renyahnya dariku. Mereka tak pernah lepas dari atmosfer dalam pikiranku, selalu mengelilingiku bahkan tak jarang bola air mata ini terurai begitu saja.

Rumah selalu membawa kehangatan tatkala aku pulang dalam keadaan basah kuyup, karena selalu ada handuk yang tersampirkan atau sekedar kata dari ayah yang begitu ramah menyuruhku untuk mengeringkan diri. Tak ada orang lain yang bisa melebihi perhatian mereka padaku.

Rumah mengajarkanku artinya kembali, arti dari kata pulang, pulang dengan segala kerinduan yang memuncak, kembali dengan segala cerita yang tak mampu kubendung lagi. Ada rasa haru ketika aku bisa pulang ke rumah, ada rasa bahagia yang meluap ketika aku bisa melihat senyum mereka. Masih jelas ku ingat saat itu, ketika aku turun dari kereta, ayah menungguku dengan sabar, menanti kehadiran putrinya turun dan berjalan ke arahnya. Saat itu entah kenapa aku menangis dalam hati sembari berdoa Tuhan bahagiakanlah kedua orang tuaku saat ini hingga seterusnya.

Rumah bagiku adalah tempat ternyaman, tempat berlindungku, tak ada yang berani menyakitiku, karena di sana ada keluarga hebat yang akan melindungiku. Mereka tak akan lelah mendengar keluh kesahku, mereka menjagaku dengan baik.


Rumah sudah seperti album kehidupanku, di sana aku telah menorehkan sejarah, cerita, dan kenangan. Di setiap dindingnya pernah aku isi dengan coretan tanganku semasa kecil, di setiap sudut rumah telah aku tinggalkan jejak. Meskipun dari luar terlihat sederhana, tak se-elite rumah yang lain, tapi itu sudah terlampau cukup, karena yang terpenting bukan rumahnya yang bagus, tapi keharmonisan penghuni di dalamnya yang hangat, dan aku telah dapatkan itu.

0 komentar:

Posting Komentar