Rumah selalu membawa sesenggukan
rindu untukku, tentang nasihat ayah, perhatian ibu yang melimpah, bahkan
tentang celoteh adik yang tak kalah renyahnya dariku. Mereka tak pernah lepas
dari atmosfer dalam pikiranku, selalu mengelilingiku bahkan tak jarang bola air
mata ini terurai begitu saja.
Rumah selalu membawa kehangatan
tatkala aku pulang dalam keadaan basah kuyup, karena selalu ada handuk yang
tersampirkan atau sekedar kata dari ayah yang begitu ramah menyuruhku untuk
mengeringkan diri. Tak ada orang lain yang bisa melebihi perhatian mereka
padaku.
Rumah mengajarkanku artinya
kembali, arti dari kata pulang, pulang dengan segala kerinduan yang memuncak,
kembali dengan segala cerita yang tak mampu kubendung lagi. Ada rasa haru
ketika aku bisa pulang ke rumah, ada rasa bahagia yang meluap ketika aku bisa
melihat senyum mereka. Masih jelas ku ingat saat itu, ketika aku turun dari
kereta, ayah menungguku dengan sabar, menanti kehadiran putrinya turun dan
berjalan ke arahnya. Saat itu entah kenapa aku menangis dalam hati sembari
berdoa Tuhan bahagiakanlah kedua orang tuaku saat ini hingga seterusnya.
Rumah bagiku adalah tempat
ternyaman, tempat berlindungku, tak ada yang berani menyakitiku, karena di sana
ada keluarga hebat yang akan melindungiku. Mereka tak akan lelah mendengar keluh kesahku, mereka menjagaku dengan baik.
Rumah sudah seperti album
kehidupanku, di sana aku telah menorehkan sejarah, cerita, dan kenangan. Di
setiap dindingnya pernah aku isi dengan coretan tanganku semasa kecil, di
setiap sudut rumah telah aku tinggalkan jejak. Meskipun dari luar terlihat
sederhana, tak se-elite rumah yang lain, tapi itu sudah terlampau cukup, karena
yang terpenting bukan rumahnya yang bagus, tapi keharmonisan penghuni di
dalamnya yang hangat, dan aku telah dapatkan itu.
0 komentar:
Posting Komentar