Seusai
lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), belum ada pandangan dalam diri saya
untuk melanjutkan apa. Entah bekerja atau melanjutkan kuliah. Tetapi, untuk
meneruskan kuliah tidak pernah terpikirkan dalam benak saya. Hal yang menjadi
kendala terbesar saya adalah finansial. Ingin sekali dapat kuliah tetapi
terbayang – bayang dengan biayanya yang mahal. Itu sebabnya seusai lulus
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dulu, saya memilih untuk melanjutkan ke SMK
daripada SMA, karena saya berpikir say tidak akan bisa merasakan bangku kuliah.
Hal yang membuat saya pesimis seketika.
Lantas
menjelang persiapan SNMPTN, saya merasa acuh tak acuh. Saya masa bodoh dengan
informasi SNMPTN itu, karena mindset yang mengatakan saya tidak akan kuliah. Tetapi
hal itu berubah, saat teman saya menawari saya program Bidik Misi. Sebuah
program beasiswa berkuliah untuk anak dengan keluarga yang kurang mampu. Saya
ragu untuk mendaftarkan diri, tapi entah kenapa saya langsung mengiyakan saja
untuk didaftarkan. Maklum karena ini adalah sekolah kejuruan, yang basisnya
adalah siswa – siswanya setelah lulus adalah bekerja, sehingga yang minat
dengan program – program itu sangatlah sedikit. Saya mendaftarkan diri karena
barangkali itu memang rezeki saya untuk bisa berkuliah.
Banyak
sekali tahap yang saya lalui untuk mendaftar Bidik Misi, tetapi tetap saya
niati dan ikuti. Sampai akhirnya saya mengikuti seleksi jalur undangan yaitu
SNMPTN. Lagi – lagi saya merasa ragu dan asal – asalan dalam memilih jurusan.
Entah apa yang aneh dalam diri saya. Dan benar, hasil asal – asalan saya itu
membuahkan tulisan bahwa saya tidak lolos di jurusan bahkan universitas yang
saya pilih. Saya sedikit kecewa tapi rasa bodo amat saya jauh lebih besar.
Kemudian seleksi selanjutnya saya mengikuti seleksi undangan untuk politeknik
negeri. Lagi – lagi saya memilih jurusan yang berbeda dengan jurusan saya di
SMK. Alhasil saya pun tidak lolos. Untuk hal itu, saya tidak merasa kecewa
karena ayah saya sendiri kurang mendukung kalau saya mendaftar di politeknik.
Entahlah aku seperti membuang kesempatan emas. Sedangkan beasiswa bidik misi
bisa saya ambil ketika saya bisa lolos di salah satu tahapan seleksi masuk
perguruan tinggi
Selanjutnya
saya kira ini adalah jalan terakhir saya untuk bisa berkuliah, kalau sampai
yang ini gagal, maka beasiswa bidik misi itu hangus dan saya tidak bisa kuliah.
Yaitu jalur SBMPTN, ini adalah jalur masuk dengan melalui tes. Saya lagi – lagi
merasa pesimis, ini pesaing saya pasti kebanyakan dari SMA, dan jika dibandingkan
dengan mereka, apa yang saya pelajari di SMK barangkali berada jauh di bawah
mereka. Tapi dalam hati ya sudahlah saya harus coba, mungkin saja ini jalan
saya. Di jalur SBMPTN, saya mengatur strategi agar kemungkinan lolosnya besar.
Saya tidak terburu – buru menentukan, saya juga meminta masukan kepada kedua
orang tua. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kuliah di universitas
negeri di Jember yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal saya
dan akses pulang yang mudah. Dan untuk jurusan saya akhirnya memilih jurusan
Manajemen sesuai dengan saran kakak dan ayah saya. Manajemen, sesuatu hal yang
sebenarnya tidak terlalu saya sukai. Saya mendaftar dengan berbekal harus ke
warnet setiap sorenya untuk kebutuhan upload dan lain – lain, sampai tiba saatnya
saya tes di Jember. Itu merupakan ketiga kalinya saya menginjakkan kaki di Kota
Jember. Pertama, adalah saat melakukan kegiatan PSG, dan kedua saat mengikuti
lomba olimpiade matematika.
Iya
mungkin bukan hal yang asing dan terasa menyenangkan. Seusai tes, saya menunggu
hasil selama sekitar 1 bulan. Pengumumannya seingat saya pada saat bulan
ramadhan. Ini bisa menjadi berkah ramadhan terindah bagi saya apabila saya
lolos masuk.Dan benar saja, saya mengecek informasi itu di warnet. Dengan
perasan harap – harap cemas saya login dan menuju laman pengumuman tes itu. Dan
Alhamdulillah sekali, tulisan selamat anda lolos dengan jurusan dan universitas
yang dipilih ternyata benar – benar nyata di depan saya. Di balik semua itu,
saya terus belajar dan belajar mempersiapkan segalanya. Saya bukan orang yang
sangat pintar, yang sekali lihat bisa langsung paham. Tetapi saya harus rajin
dulu agar bisa disebut dengan sebutan pintar. Saya bukan seseorang yang
beruntung, banyak lika liku dalam diri saya. Jika ada yang mengatakan saya
beruntung, barangkali itu adalah hasil saya dalam berusaha sangat keras.
0 komentar:
Posting Komentar