Senin, 16 Maret 2020

Perjuangan Menapaki Dunia Kuliah


Seusai lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), belum ada pandangan dalam diri saya untuk melanjutkan apa. Entah bekerja atau melanjutkan kuliah. Tetapi, untuk meneruskan kuliah tidak pernah terpikirkan dalam benak saya. Hal yang menjadi kendala terbesar saya adalah finansial. Ingin sekali dapat kuliah tetapi terbayang – bayang dengan biayanya yang mahal. Itu sebabnya seusai lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) dulu, saya memilih untuk melanjutkan ke SMK daripada SMA, karena saya berpikir say tidak akan bisa merasakan bangku kuliah. Hal yang membuat saya pesimis seketika.

Lantas menjelang persiapan SNMPTN, saya merasa acuh tak acuh. Saya masa bodoh dengan informasi SNMPTN itu, karena mindset yang mengatakan saya tidak akan kuliah. Tetapi hal itu berubah, saat teman saya menawari saya program Bidik Misi. Sebuah program beasiswa berkuliah untuk anak dengan keluarga yang kurang mampu. Saya ragu untuk mendaftarkan diri, tapi entah kenapa saya langsung mengiyakan saja untuk didaftarkan. Maklum karena ini adalah sekolah kejuruan, yang basisnya adalah siswa – siswanya setelah lulus adalah bekerja, sehingga yang minat dengan program – program itu sangatlah sedikit. Saya mendaftarkan diri karena barangkali itu memang rezeki saya untuk bisa berkuliah.

Banyak sekali tahap yang saya lalui untuk mendaftar Bidik Misi, tetapi tetap saya niati dan ikuti. Sampai akhirnya saya mengikuti seleksi jalur undangan yaitu SNMPTN. Lagi – lagi saya merasa ragu dan asal – asalan dalam memilih jurusan. Entah apa yang aneh dalam diri saya. Dan benar, hasil asal – asalan saya itu membuahkan tulisan bahwa saya tidak lolos di jurusan bahkan universitas yang saya pilih. Saya sedikit kecewa tapi rasa bodo amat saya jauh lebih besar. Kemudian seleksi selanjutnya saya mengikuti seleksi undangan untuk politeknik negeri. Lagi – lagi saya memilih jurusan yang berbeda dengan jurusan saya di SMK. Alhasil saya pun tidak lolos. Untuk hal itu, saya tidak merasa kecewa karena ayah saya sendiri kurang mendukung kalau saya mendaftar di politeknik. Entahlah aku seperti membuang kesempatan emas. Sedangkan beasiswa bidik misi bisa saya ambil ketika saya bisa lolos di salah satu tahapan seleksi masuk perguruan tinggi

Selanjutnya saya kira ini adalah jalan terakhir saya untuk bisa berkuliah, kalau sampai yang ini gagal, maka beasiswa bidik misi itu hangus dan saya tidak bisa kuliah. Yaitu jalur SBMPTN, ini adalah jalur masuk dengan melalui tes. Saya lagi – lagi merasa pesimis, ini pesaing saya pasti kebanyakan dari SMA, dan jika dibandingkan dengan mereka, apa yang saya pelajari di SMK barangkali berada jauh di bawah mereka. Tapi dalam hati ya sudahlah saya harus coba, mungkin saja ini jalan saya. Di jalur SBMPTN, saya mengatur strategi agar kemungkinan lolosnya besar. Saya tidak terburu – buru menentukan, saya juga meminta masukan kepada kedua orang tua. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kuliah di universitas negeri di Jember yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal saya dan akses pulang yang mudah. Dan untuk jurusan saya akhirnya memilih jurusan Manajemen sesuai dengan saran kakak dan ayah saya. Manajemen, sesuatu hal yang sebenarnya tidak terlalu saya sukai. Saya mendaftar dengan berbekal harus ke warnet setiap sorenya untuk kebutuhan upload dan lain – lain, sampai tiba saatnya saya tes di Jember. Itu merupakan ketiga kalinya saya menginjakkan kaki di Kota Jember. Pertama, adalah saat melakukan kegiatan PSG, dan kedua saat mengikuti lomba olimpiade matematika.

Iya mungkin bukan hal yang asing dan terasa menyenangkan. Seusai tes, saya menunggu hasil selama sekitar 1 bulan. Pengumumannya seingat saya pada saat bulan ramadhan. Ini bisa menjadi berkah ramadhan terindah bagi saya apabila saya lolos masuk.Dan benar saja, saya mengecek informasi itu di warnet. Dengan perasan harap – harap cemas saya login dan menuju laman pengumuman tes itu. Dan Alhamdulillah sekali, tulisan selamat anda lolos dengan jurusan dan universitas yang dipilih ternyata benar – benar nyata di depan saya. Di balik semua itu, saya terus belajar dan belajar mempersiapkan segalanya. Saya bukan orang yang sangat pintar, yang sekali lihat bisa langsung paham. Tetapi saya harus rajin dulu agar bisa disebut dengan sebutan pintar. Saya bukan seseorang yang beruntung, banyak lika liku dalam diri saya. Jika ada yang mengatakan saya beruntung, barangkali itu adalah hasil saya dalam berusaha sangat keras.

0 komentar:

Posting Komentar