Jika
berbicara tentang perempuan, saya menjadi teringat dengan Hari Perempuan
Internasional yang diperingati pada tanggal 8 Maret. Banyak stigma tentang
perempuan bisa didiskusikan. Dimulai dari hal yang seharusnya dan patut dikuasai
seorang perempuan, bahkan juga hal-hal yang cukup laki – laki saja yang
tangani, perempuan tak perlulah rela-rela mengurusi. Di sekitar saya bisa
ditemui anggapan perempuan harus seperti ini, perempuan tidak boleh seperti
itu. Kemudian saya berpikir, terkadang hal – hal tersebut mungkin bisa
ditangkap nalar, tetapi bukan berarti membatasai ruang ekspresi perempuan. Jika
perempuan memiliki sikap tegas dalam dirinya, apakah ia menyalahi dirinya
sendiri. Namun, jika perempuan selalu terlihat menetes air matanya, lagi – lagi
di sekitarnya menyebut ia baper?.
Iya,
hal – hal itu terkadang selalu menjadi perbincangan di antara laki – laki atau
bahkan perempuan itu sendiri. Sesuai dengan judul tulisan ini yaitu “Perempuan
Mengambil Peran”, saya ingin memberikan cerita dengan latarnya adalah
organisasi di kampus bahwa seringkali perempuan terlihat mengambil peran, namun
bentuknya tak kasat mata. Sudah menjadi pengetahuan umum, jika jumlah perempuan
lebih banyak dari laki – laki. Pada organisasi yang saya temui, perempuan jauh
lebih aktif dan detail untuk mengoreksi sesuatu. Bahkan sudah banyak kelakar
mengudara bahwa perempuan selalu benar. Saya hanya heran saja, kelakar-kelakar
seperti itu adalah sebuah pujian atau sindiran. Ingin menyangkal pun tetapi
memang itu adalah ciri khas perempuan. Fenomena yang lain ialah saat mengambil
keputusan. Banyak yang mengatakan cenderung menggunakan perasaan, cenderung
susah untuk memutuskan. Lagi – lagi kelakar keluar dengan perempuan yang selalu
mengatakan, terserah atau tidak apa-apa sebagai bentuk perempuan yang sukar
untuk memilih.
Namun
pernah tidak berpikir, ketika ada perempuan yang berhasil mengutarakan
keinginannya bahkan memutuskan sesuatu dengan tegas, ia bisa menjadi pondasi
terkuat. Hal itu juga beberapa kerap saya temui, dalam organisasi ada perempuan
– perempuan macam itu. Dua hal itu menurut saya peran perempuan yang kadang
tidak terlihat. Dan terakhir adalah tentang kepemimpinan. Saya yakin semua
orang pasti ingin seseorang yang memimpin adalah seorang laki – laki. Selain
karena laki – laki lebih tidak mengandalkan perasaan, tetapi ia didesain untuk
menjadi sosok yang kuat dan tahan banting. Namun, saya tentang hal ini adalah berbicara
pada lini organisasi. Tak sedikit perempuan mengisi posisi yang strategis dalam
tonggak kepengurusan organisasi. Tak jarang beberapa kesempatan juga diberi
kesempatan berbicara di depan semua laki – laki. Iya, barangkali saya
menceritakan ini hanya bisa sebatas dari pengalaman saya. Intinya adalah,
terkadang kita lupa bahwa perempuan juga memiliki peran yang sama baiknya
sesuai dengan porsinya dan laki – laki juga pastilah memiliki peran yang sama
besarnya, bukankah indah bila saling melengkapi dan memberi apresiasi.
0 komentar:
Posting Komentar