Minggu, 29 Maret 2020

Perempuan Mengambil Peran


Jika berbicara tentang perempuan, saya menjadi teringat dengan Hari Perempuan Internasional yang diperingati pada tanggal 8 Maret. Banyak stigma tentang perempuan bisa didiskusikan. Dimulai dari hal yang seharusnya dan patut dikuasai seorang perempuan, bahkan juga hal-hal yang cukup laki – laki saja yang tangani, perempuan tak perlulah rela-rela mengurusi. Di sekitar saya bisa ditemui anggapan perempuan harus seperti ini, perempuan tidak boleh seperti itu. Kemudian saya berpikir, terkadang hal – hal tersebut mungkin bisa ditangkap nalar, tetapi bukan berarti membatasai ruang ekspresi perempuan. Jika perempuan memiliki sikap tegas dalam dirinya, apakah ia menyalahi dirinya sendiri. Namun, jika perempuan selalu terlihat menetes air matanya, lagi – lagi di sekitarnya menyebut ia baper?.

Iya, hal – hal itu terkadang selalu menjadi perbincangan di antara laki – laki atau bahkan perempuan itu sendiri. Sesuai dengan judul tulisan ini yaitu “Perempuan Mengambil Peran”, saya ingin memberikan cerita dengan latarnya adalah organisasi di kampus bahwa seringkali perempuan terlihat mengambil peran, namun bentuknya tak kasat mata. Sudah menjadi pengetahuan umum, jika jumlah perempuan lebih banyak dari laki – laki. Pada organisasi yang saya temui, perempuan jauh lebih aktif dan detail untuk mengoreksi sesuatu. Bahkan sudah banyak kelakar mengudara bahwa perempuan selalu benar. Saya hanya heran saja, kelakar-kelakar seperti itu adalah sebuah pujian atau sindiran. Ingin menyangkal pun tetapi memang itu adalah ciri khas perempuan. Fenomena yang lain ialah saat mengambil keputusan. Banyak yang mengatakan cenderung menggunakan perasaan, cenderung susah untuk memutuskan. Lagi – lagi kelakar keluar dengan perempuan yang selalu mengatakan, terserah atau tidak apa-apa sebagai bentuk perempuan yang sukar untuk memilih.

Namun pernah tidak berpikir, ketika ada perempuan yang berhasil mengutarakan keinginannya bahkan memutuskan sesuatu dengan tegas, ia bisa menjadi pondasi terkuat. Hal itu juga beberapa kerap saya temui, dalam organisasi ada perempuan – perempuan macam itu. Dua hal itu menurut saya peran perempuan yang kadang tidak terlihat. Dan terakhir adalah tentang kepemimpinan. Saya yakin semua orang pasti ingin seseorang yang memimpin adalah seorang laki – laki. Selain karena laki – laki lebih tidak mengandalkan perasaan, tetapi ia didesain untuk menjadi sosok yang kuat dan tahan banting. Namun, saya tentang hal ini adalah berbicara pada lini organisasi. Tak sedikit perempuan mengisi posisi yang strategis dalam tonggak kepengurusan organisasi. Tak jarang beberapa kesempatan juga diberi kesempatan berbicara di depan semua laki – laki. Iya, barangkali saya menceritakan ini hanya bisa sebatas dari pengalaman saya. Intinya adalah, terkadang kita lupa bahwa perempuan juga memiliki peran yang sama baiknya sesuai dengan porsinya dan laki – laki juga pastilah memiliki peran yang sama besarnya, bukankah indah bila saling melengkapi dan memberi apresiasi.

0 komentar:

Posting Komentar