Momen wisuda,
menurut saya adalah momen yang sangat ditunggu bagi pejuang toga, sekaligus
membuktikan hasil yang sudah dikerjakannya kemarin – kemarin hari. Walaupun
begitu ada juga hal-hal yang bikin geregetan untuk menemui momen wisuda itu.
Selain karena proses menuju ujian skripsi, juga karena ketinggalan kloter kursi
wisuda. Ini yang terkadang dapat menjadi dilema mahasiswa/i akhir yang sudah
selesai ujian skripsi tapi masih harus melakukan revisi dan administrasi menyetorkan
skripsi, sehingga ketika kloter dibuka, sudah didahului oleh mahasiswa/i yang
juga sudah menanti lebih lama sebelumnya.
Terutama
untuk saya, yang sudah saya ceritakan di bagian ‘momen skripsweet’, bahwa saya banyak menunda mengerjakan skripsi.
Semakin lama menunda, maka semakin ketinggalan saya dengan teman – teman termasuk
kuota kursi wisuda. Ditambah keprihatinan saya melihat orang tua yang
menginginkan saya segera lulus dan diwisuda, mengingat mama saya yang sedang masa
pemulihan dari pasca sakitnya, sehingga saya tidak ingin terlalu membebani
pikiran beliau. Saya beranjak kembali, menyemangati diri saya sampai akhirnya
saya seminar proposal, tetapi otomatis saya menambah semester dan membayar UKT.
Dari sini saya lagi – lagi membebani ayah saya. Tetapi saya kali ini tidak
boleh mengecewakan. Selain menyelesaikan ujian skripsi untuk menuju gerbang
wisuda, mahasiswa/i juga harus lulus TOEFL yang diadakan oleh Universitas. Hal
itu juga sebenarnya alasan lain yang membuat saya down dan malas sekali untuk semangat, tetapi berbagai cara dengan
dukungan beberapa teman akhirnya saya bisa melalui TOEFL itu.
TOEFL
saya lulus berbarengan dengan selesainya seminar proposal saya. Puji syukur
sekali saya bisa menyelesaikan 2 hal itu. Usai seminar proposal, langsung saya
gencarkan mengerjakan revisi serta mengerjakan bab 4 dan 5. Berhubung objek
penelitian saya berada di Pasuruan, jadi saya perlu kesana untuk membagikan
kuisioner. Saya mengerjakannya tidak putus-putus, karena saya juga memberi
target pada diri saya, akan ujian skripsi kapan. Dan benar saja setelah selesai
semua, saya mengahadap kepada kedua dosen pembimbing saya. Tidak butuh waktu
banyak untuk memberikan lampu hijau pada saya maju ujian skripsi. Hal yang tidak
terduga bagi saya, karena saya pikir mungkin akan banyak revisi nanti di
belakangnya, dan ternyata tidak. Kemudian, saya mengurusi beberapa berkas
mendaftar ujian skripsi yang masih kurang. Kurang lebih 2 minggu setelah saya
mengurus itu, saya ujian. Sebelum hari ujian tiba, saya sempatkan untuk pulang
ke rumah dan meminta doa restu kepada kedua orang tua agar diberi kelancaran
dalam ujian.
Hari
yang dinanti pun tiba. Saya masih tidak menyangka tepat di tanggal 26 dan 27
September 2019 saya akan ujian skripsi. Mengapa dua hari? Karena ujian saya ke
setiap dosen dan tidak serentak langsung. Dosen penguji saya berjumlah 3 orang dan dapat
dibilang bukan kategori dosen yang killer, teman – teman banyak yang mengatakan
seperti itu. Meskipun begitu, saya harus tetap berdoa dan bersyukur denga segala
apa yang terjadi. Pada hari itu, saya mengenakan atasan seragam putih dengan
rok panjang hitam berdasi, kerudung hitam, bersepatu pantofel dan tak lupa
dengan jas almamater kebanggaan.
Dalam
hati, ini pertama kali bagi saya mengenakan pakain seperti itu, jika bukan
karena ujian skripsi, saya sampai saat ini belum akan tahu rasanya seperti apa.
Pada tanggal 26 September, dosen yang menguji ialah satu dosen. Sisanya di
tanggal 27 September. Sampai pada dosen yang terakhir menguji saya di tanggal
27 September, Alhamdulillah semua berjalan lancar dengan revisi yang tidaklah
banyak, sehingga bisa langsung saya kerjakan sepulangnya. Perasaan saya lega
saat itu, beban – beban rasanya mulai terangkat, dan semuanya berbuah baik. Dan
tanggal 28 September, masih sempatnya saya meghadiri malam Hari Ulang Tahun
(HUT) organisasi saya yaitu KSR yang ke-26.
Tidak
butuh waktu banyak saya mengerjakan revisi dan segera menunjukkan kepada dosen
penguji untuk disetujui. Segala kekeliruan terkait gelar dosen penguji sudah
saya antispasi dan saya koreksi betul-betul. Sempat ada salah sedikit, tetapi
kemudian saya cetak kembali selembar. Akhirnya saat kuota wisuda dibuka
kembali, saya bisa segera mendaftar dan pada tanggal 25 Januari 2020 saya
diwisuda menjadi alumni, serta memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.E).
Yang selalu saya petik dari proses ini adalah, jangan ragu dan jangan pikirkan kata orang-orang di sekitar. Pasti saya akan sampai.
Selama kita yakin semua akan menjadi mungkin, thanks Miss puitis, saya segera menyusul 😊
BalasHapus