Setiap
waktu memilikki makna tersendiri dalam hidupku. Pagi, siang, sore, malam saling
merajut satu sama lain membentuk sebuah kisah yang kujalani.
Ketika
pagi datang bersambut, sembari ditemani rekah mentari yang merangkak. Aku
mengawali hari – hariku, ku pejamkan mata dan bergumam bahwa hari ini akan
lebih baik dari hari kemarin. Aku membuka mataku perlahan, berusaha menangkap
sinar yang sesilau itu. Lebih indah lagi jika menatapnya di bibir pantai yang
teduh dengan ombaknya yang menyapa pelan kaki ini.
Iya
suatu pagi yang selalu mengingatkanku pada suasana pantai. Sambil melambaikan
tangan ke ujung laut disana, ku berkata “ Hai, pulau di seberang sana, apa
kabarmu?. Kapal – kapal yang mengantarkan awaknya ke pulaumu telah sampai
dengan selamat bukan?” Selalu hal inilah yang aku gemari di pagi yang masih
sendu ini, berbicara pada angin, menatap langit yang mulai disinggahi sang
surya.
Kemudian
siang datang, teriknya yang begitu menyengat mampu membuatku tak berkutik. Rasa
panas dan dahaga bercampur menjadi satu kesatuan membentuk rantai kelelahan.
Iya siang adalah suasana insan yang tengah lelah, dan pada tahap ini otak perlu
diistirahatkan, imajinasi perlu diberi jeda. Mungkin semangkuk es buah dapat
meredakan rasa lelah itu.
Kemudian sore, mentari mulai menuruni tangga – tangga langit, mencoba
membenamkan diri di ujung sana. Iya sore ku adalah suasana yang paling damai
diantara suasana – suasana yang lain. Sore bercerita tentang senja, tentang
anak – anak, tentang jalan setapak itu, dan aku selalu mengukir kisah disana,
diantara sela – sela hiruk pikuk anak pulang sekolah, di sepanjang motor
berlalu lalang menandakan Ayah telah pulang, aku berlarian kecil. Berlarian
kecil di antara lapangan, melihat anak menerbangkan layang – layang, menendang
bola, sembari menunggu malam benar – benar tiba.
0 komentar:
Posting Komentar