Selasa, 04 Oktober 2016

Sekelumit Waktu


Setiap waktu memilikki makna tersendiri dalam hidupku. Pagi, siang, sore, malam saling merajut satu sama lain membentuk sebuah kisah yang kujalani.
Ketika pagi datang bersambut, sembari ditemani rekah mentari yang merangkak. Aku mengawali hari – hariku, ku pejamkan mata dan bergumam bahwa hari ini akan lebih baik dari hari kemarin. Aku membuka mataku perlahan, berusaha menangkap sinar yang sesilau itu. Lebih indah lagi jika menatapnya di bibir pantai yang teduh dengan ombaknya yang menyapa pelan kaki ini.
Iya suatu pagi yang selalu mengingatkanku pada suasana pantai. Sambil melambaikan tangan ke ujung laut disana, ku berkata “ Hai, pulau di seberang sana, apa kabarmu?. Kapal – kapal yang mengantarkan awaknya ke pulaumu telah sampai dengan selamat bukan?” Selalu hal inilah yang aku gemari di pagi yang masih sendu ini, berbicara pada angin, menatap langit yang mulai disinggahi sang surya.
Kemudian siang datang, teriknya yang begitu menyengat mampu membuatku tak berkutik. Rasa panas dan dahaga bercampur menjadi satu kesatuan membentuk rantai kelelahan. Iya siang adalah suasana insan yang tengah lelah, dan pada tahap ini otak perlu diistirahatkan, imajinasi perlu diberi jeda. Mungkin semangkuk es buah dapat meredakan rasa lelah itu.
    Kemudian sore, mentari mulai menuruni tangga – tangga langit, mencoba membenamkan diri di ujung sana. Iya sore ku adalah suasana yang paling damai diantara suasana – suasana yang lain. Sore bercerita tentang senja, tentang anak – anak, tentang jalan setapak itu, dan aku selalu mengukir kisah disana, diantara sela – sela hiruk pikuk anak pulang sekolah, di sepanjang motor berlalu lalang menandakan Ayah telah pulang, aku berlarian kecil. Berlarian kecil di antara lapangan, melihat anak menerbangkan layang – layang, menendang bola, sembari menunggu malam benar – benar tiba.

Dan malam selalu datang dengan ditemani rembulan dan bintang, menjemputuku pada situasi yang hening, kelam, membuatku terlelap….



0 komentar:

Posting Komentar