Jumat, 09 September 2016

Pada Rembulan

Aku ingin bercengkrama pada rembulan yang selalu menghiasi kalutnya malam, aku ingin bertanya, pernahkah ia merasa kecewa ketika ia harus menerangi malam hanya seorang diri. Benar, ada sekumpulan bintang bertaburan di sana, tapi tak pernah kulihat mereka akur, mereka berada di langit yang sama tetapi mereka nampak jauh. Bahkan yang mungkin sering dipandang dari kejauhan adalan bintang-bintang yang mungil itu yang kerlipan cahayanya mampu mensterilkan suasana hati yang tengah karam dihantam ombak. Tapi rembulan bisa menyembunyikan kesedihan itu, agar dia bisa bersikap professional dan tidak membesarkan rasa kecemburuannya itu.

Aku ingin bertanya lagi pada rembulan, mengapa ia harus setegar itu? Mengapa ia harus bersanding dengan langit kelam dalam suasana yang mungkin sunyi dan dalam pengharapan manusia yang selalu menatapnya dari bawah. Iya, manusia yang tengah diterpa gelombang kegundahan yang hilang arah tetapi disempatkan menatap rembulan yang berbalik ikut memandangnya sembari berbisik, “apa yang tengah kau risaukan, mengapa rautmu nampak muram?” . Seakan tahu apa yang dibisikkan rembulan padanya, ia menggumam dalam hati, “ bulan, dunia ini gelap, dunia ini sunyi, tapi kau masih tetap bisa bersinar, bisakah aku bersinar sepertimu?”


Bulan pun berkata ,” Kamu pasti bisa, bersikaplah tegar dan melangkah lah, kamu akan mampu bersinar dengan sinarmu sendiri “

0 komentar:

Posting Komentar