Aku ingin bercengkrama pada
rembulan yang selalu menghiasi kalutnya malam, aku ingin bertanya, pernahkah ia
merasa kecewa ketika ia harus menerangi malam hanya seorang diri. Benar, ada
sekumpulan bintang bertaburan di sana, tapi tak pernah kulihat mereka akur,
mereka berada di langit yang sama tetapi mereka nampak jauh. Bahkan yang
mungkin sering dipandang dari kejauhan adalan bintang-bintang yang mungil itu
yang kerlipan cahayanya mampu mensterilkan suasana hati yang tengah karam
dihantam ombak. Tapi rembulan bisa menyembunyikan kesedihan itu, agar dia bisa
bersikap professional dan tidak membesarkan rasa kecemburuannya itu.
Aku ingin bertanya lagi pada
rembulan, mengapa ia harus setegar itu? Mengapa ia harus bersanding dengan
langit kelam dalam suasana yang mungkin sunyi dan dalam pengharapan manusia
yang selalu menatapnya dari bawah. Iya, manusia yang tengah diterpa gelombang
kegundahan yang hilang arah tetapi disempatkan menatap rembulan yang berbalik
ikut memandangnya sembari berbisik, “apa yang tengah kau risaukan, mengapa
rautmu nampak muram?” . Seakan tahu apa yang dibisikkan rembulan padanya, ia
menggumam dalam hati, “ bulan, dunia ini gelap, dunia ini sunyi, tapi kau masih
tetap bisa bersinar, bisakah aku bersinar sepertimu?”
Bulan pun berkata ,” Kamu pasti
bisa, bersikaplah tegar dan melangkah lah, kamu akan mampu bersinar dengan
sinarmu sendiri “
0 komentar:
Posting Komentar