“Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar judul di atas? Mungkin masih terdengar awam, ya. Apa benar jika selama ini sekolah belum menyenangkan? Sehingga muncullah kalimat seperti judul di atas?”
Pertanyaan
pemantik tadi setidaknya membuat kita khususnya saya sendiri berkaca pada
pendidikan di Indonesia dari zaman dahulu sampai sekarang. Di mana pendidikan
yang umumnya sudah ditempuh para peserta didik tidak jauh-jauh dari angka dan
nilai. Peserta didik disuapi dengan banyak tugas dan berpatokan pada nilai,
sehingga mereka tidak memiliki pemahaman yang utuh dari apa yang dikerjakan. Mereka
tidak tahu apa manfaat yang didapatkan setelah belajar di kelas dan aplikasinya
di dunia sehari-hari. Mereka hanya berpikir mendapatkan nilai bagus kemudian
naik kelas dan lulus. Sehingga ini yang menjadi perhatian pemerintah bahkan
harapan masyarakat agar pendidikan bisa berkembang lebih baik lagi dan
memberikan dampak bagi peserta didik.
Salah
satu terobosan baru menuju pendidikan yang lebih baik adalah dengan adanya
Gerakan Sekolah Menyenangkan atau biasa disingkat GSM. Dilansir dari website
sekolahmenyenangkan, bahwa Gerakan Sekolah Menyenangkan adalah gerakan yang
mempromosikan dan membangun kesadaran guru, kepala sekolah, orang tua, dan
pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun ekosistem sekolah yang positif
sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar. Belajar apa saja yang dimaksud?
yaitu belajar tentang ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup supaya anak-anak
menjadi pembelajar yang adaptif, mandiri, tangkas, dan cepat menghadapi
perubahan dunia yang sangat cepat dan tidak menentu.
Sejarah GSM
GSM ini dibentuk oleh pasangan suami
istri yaitu Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra. Mereka membentuk GSM
karena pengalaman saat tinggal di Melbourne, Australia untuk menempuh studi
doktoral. Inspirasinya didapatkan dari ketiga anaknya yang sangat menyukai
sekolahnya. Bahkan sewaktu liburan, anak-anak mereka justru rindu bersekolah.
Ini yang membuat Rizal dan Novi penasaran, ternyata pendidikan Australia lebih
unggul dari segi kurikulum, lebih menyenangkan, dan disesuaikan dengan
kelebihan setiap anak. Hingga akhirnya mereka mengembangkan GSM ini di
Indonesia pada tahun 2016 dan dimulai dari merangkul sekolah-sekolah pinggiran
yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Jika dahulu murid hanya mendengarkan penjelasan dari guru saja, maka pendidikan saat ini tidak seperti itu. Murid diharapkan dapat berperan aktif dan guru sebagai fasilitator. Jika dahulu pendidikan berpusat dari guru, maka kali ini pendidikan berfokus pada murid. Di sini penting sekali peran guru untuk lebih mengenali para muridnya dengan cara mengamati dan menumbuhkan minat dan bakat mereka. Sehingga murid bisa mengeksplor dirinya dan berpikir kreatif. Tentunya, guru perlu mengonsep bagaimana pembelajaran bisa nyaman dan diterima murid. Dikatakan nyaman apabila murid merasa senang belajar dan tidak terbebani, sehingga materi pun akan terserap dengan baik.
“Nah, apakah
konsep GSM sudah dipahami baik di benak kalian? Menurut kalian seperti apa
pembelajaran yang menyenangkan? Tentunya semoga anak bisa berkembang lebih baik
lagi”

0 komentar:
Posting Komentar