Kamis, 27 Februari 2020

Lelaki Dalam Mimpi

Mimpi semalam masih tersisa dalam kolong ingatan. Terbangun tiba-tiba, kemudian sadar saya telah kembali di masa pagi yang sendu. Mimpi semalam masih berkeliat dalam benak, tentang kereta yang terus melaju, tentang orang-orang dengan tatapan kosong berjalan tanpa menyapa, tentang rumah reot tak berpenghuni. Ah tak lupa kamu dengan segala sisi misterius yang melekat. Aku ingat dengan jernih, iya itu kamu dengan keacuhanmu diam-diam turut tersesat dalam mimpi saya.

Samar-samar kuingat dalam mimpi itu, kamu membawa sepaket bunga warna warni yang indah dengan wajah tersenyum. Saya rasa itu bukan kamu, karena di keseharian kita bertemu, kamu terlihat datar menatapku. Apalagi untuk sepaket bunga, kamu bukan seorang yang romantis. Tapi kemudian aku menatapnya lagi dengan lekat-lekat. Memang itu kau. Tidak mungkin, sergahku dalam hati. Kamu menghampiriku sembari memberikan bunga itu, "ini terimalah, maaf aku jarang mengunjungimu". Aku menatap nanar bunga itu, dengan wajah bingung aku menerimanya sambil berkata sangat canggung, "ini bukan kamu, kamu dan bungamu tak pernah nyata, bahkan senyum itu". Bagaimana aku bisa menyebut ini nyata, sedangkan jelas aku sedang bermimpi.

"Ini aku. Tidak berubah, masih tetap seseorang dalam hatimu. Lihatlah disana ada taman bunga, mari kita kesana untuk sekedar bercengkrama," ajaknya padaku. Aku menurutinya, mengikutinya berdampingan dengannya. Rasanya sangat tenang, kapan terakhir aku berjalan bersamanya seperti ini. Ah andaikan kamu bisa semanis ini, mungkin rekam kenang selalu kuputar dalam memori senduku. Tapi segala keacuhanmu selalu berhasil membuatku geram. Tak sadar, aku dengannya telah sampai di beberapa pohon yang ditumbuhi bunga sakura, bunga-bunganya berjatuhan tertiup seakan menyambut kami. Indah sekali, batinku.

"Maaf, jika aku terlihat acuh di depanmu, tapi percayalah aku menyayangimu. Dua mata dan hatiku tak akan berbohong" ucapnya sayu, bersamaan dengan itu, angin bertiup kencang menerbangkan daun-daun kering. Aku hanya dapat mengangguk mengiyakan, "Iya, tak apa. Terima kasih. Aku pun begitu" . Begitu sangat menyayangimu, tapi kata-kataku tak bisa keluar, suaraku tertahan. Dalam keadaan mata terpejam, bulir air mataku jatuh...

Cinta kita melukiskan sejarah, menggelarkan cerita penuh suka cita, sehingga siapapun insan Tuhan, pasti tahu. Cinta kita sejati....

Denting lagu itu sebagai pengantar alarmku, membangunkanku tepat di pagi hari, kala mentari belum menyembul sepenuhnya. Aku segera meraih handphoneku, menatap layar. Ah aku terlambat. Aku bergegas meraih sebingkai foto yang terpajang, fotoku bersamanya. Aku dengan senyum termanisku sembari merangkul lengannya, dia masih tetap dengan posenya yang datar sembari mengusap kepalaku.

Selamat ulang tahun Sayang, bagaimana kabarmu? Semoga kamu baik-baik disana. Maaf aku jarang berkunjung ke tempat abadimu. Aku merindukanmu.

0 komentar:

Posting Komentar